wartamerdeka.com

Sab 19 04 2014

Last update06:55:52 AM GMT

Kita Berada di: Sosok Sosok 1 Enam Tahun Beternak Murai Batu Medan, Adi Supriyanto Jadi Milyarder

Enam Tahun Beternak Murai Batu Medan, Adi Supriyanto Jadi Milyarder

 

KURANG lebih enam tahun lamanya Adi Supriyanto (40) warga RT 1/RW 4 Desa/Kec. Sale Kab.Rembang menekuni usaha berternak dan menangkarkan burung kicauan jenis Murai Batu Medan. Kini setiap tahun pundi uangnya bertambah ratusan juta rupiah, hasil dari usaha yang semula sempat membuat dia putus asa.

 

Berawal pada tahun 2005 ketika lelaki bergelar insinyur sehari-hari berdinas di BKPP4K itu memutuskan beternak Murai Batu Medan. Dibelinya sepasang burung kicauan yang termasuk berkelas, namun sekira 2 bulan lamanya tak kunjung jua dapat dijodohkan dan bertelur. Akhirnya dia mencari referensi dari literatur dan berkomunikasi dengan peternak lain, hingga mampu menjodohkan dan bertelur dan sejak itulah taraf hidupnya meningkat pesat, bahkan layak menyandang gelar milyarder.

Suami Retno Utami (28) selnjutnya menjelaskan, hingga kini upaya menjodohkan sepasang burung Murai Medan masih termasuk menjadi kendala. "Paling cepat dalam waktu satu minggu tetapi ada kalanya sampai empat bulan lamanya," bebernya.

Ayah satu anak itu mengungkapkan, merawat anakan yang baru menetas menuju proses perkembangan juga membutuhkan modal besar. Karena hanya diberi makan kroto (telur semut merah) yang kadang harus dibeli dari luar kota. "Setelah keluar bulu halus diselingi umpan jangkrik yang di Rembang juga termasuk sulit didapatkan," sergahnya.

Semula usaha penangkaran dilakukan sendiri, setelah berkembang pesat menambah tenaga 10 orang dan terhitung setahun silam dia mempekerjakan 25 orang tetangga. "Mereka dibagi tugas sesuai dengan kemampuan masing-masing yang sebelumnya telah saya latih dan bina," tukasnya.

Dia kini memiliki 14 pasang indukan burung Murai Medan dan telah menjual ratusan ekor anakan. Untuk menangkarkan burung Murai Batu Medan butuh lahan cukup luas karena ekornya terhitung panjang dan menjadi salah satu daya tarik para peenggemar kicauan. "Tiap indukan saya tempatkan di kandang berukuran 1,5 X 1,2 meter dengan ketinggian 2 meter," cetusnya.

Untuk harga anakan sendiri dia banderol Rp 1 juta per ekor. Juga tak pusing memasarkan hasil tangkaran, karena sudah cukup dikenal di kalangan kicau mania di tanah air. "Komunitas penggemar dan kolektor Murai Medan dari kota Jakarta, Surabaya, Semarang, Solo bahkan dari luar pulau banyak yang datang melakukan aksi borong," imbuhnya.

Dari 14 pasang indukan, sedikitnya dalam setahun menghasilkan ratusan telur dan setelah menetas tak akan berusia lama di rumah. Karena banyak pelanggan yang ingin memelihara dengan cara mereka sendiri. "Pelanggan inden sejak masih berupa telur. Bahkan sebelum mriwik (belajar bersuara-red) sudah diambil karena mereka akan mearawat dengan metode sendiri," pungkasnya. (hasan)

 

DISQUS MENYIAPKAN RUBRIK KOMENTAR INI