YOGYAKARTA – Dua malam berada di Kota Gudeg ternyata meninggalkan kegelisahan panjang bagi Anggota DPR RI dari Dapil Bali Fraksi PDIP I Nyoman Parta. Bukan sekadar perjalanan biasa, melainkan perjalanan batin yang membuatnya membandingkan dua daerah budaya paling kuat di Indonesia: Bali dan Yogyakarta.
Di tengah agenda kunjungannya di Yogyakarta, Parta mengaku sengaja berjalan ke banyak sudut kota. Ia mengamati ruang publik, suasana kampung, kehidupan masyarakat, ritme jalanan, hingga bagaimana budaya hidup di tengah masyarakat sehari-hari.
Dari pengamatan sederhana itulah muncul satu pertanyaan yang terus mengganggunya:
“Apakah Bali hari ini masih memberi ruang bernapas yang cukup bagi masyarakatnya sendiri?” tulis I Nyoman Parta di Instagram miliknya.
Pertanyaan itu ia tuliskan dalam catatan reflektif panjang yang diunggah melalui Instagram pribadinya pada 23 Mei 2026. Tulisan tersebut langsung memantik perhatian banyak kalangan karena dianggap sebagai kritik jujur dari seorang putra Bali terhadap arah pembangunan Pulau Dewata hari ini.
Dalam unggahannya, Parta tidak sedang membandingkan mana daerah yang lebih hebat. Ia justru menegaskan bahwa Bali tetap menjadi salah satu wilayah budaya paling luar biasa di dunia. Namun justru karena itulah, Bali menurutnya perlu sesekali “bercermin”.
“Semakin lama berada di Yogya semakin banyak pertanyaan yang muncul dalam pikiran saya tentang Bali hari ini. Bukan karena Yogyakarta lebih hebat daripada Bali. Tidak tentunya. Bali tetap memiliki kekuatan budaya yang luar biasa dan dikagumi dunia. Tetapi justru karena sama-sama daerah budaya, saya merasa Bali perlu sesekali bercermin,” tulis Parta.
Yogya dan Ruang Bernapas yang Masih Terasa
Bagi Parta, ada sesuatu yang terasa berbeda ketika berjalan di Yogyakarta. Ia melihat kota yang masih memberi ruang hidup lebih manusiawi bagi masyarakatnya.
Ia menggambarkan bagaimana ritme hidup di kota itu terasa lebih pelan. Orang masih punya waktu berbincang. Ruang publik masih hidup. Komunitas masih tumbuh. Budaya tidak hanya hadir di panggung-panggung wisata, tetapi benar-benar menyatu dalam keseharian masyarakat.
Di banyak sudut kota, kehidupan terasa lebih tenang. Bukan berarti tanpa masalah. Tetapi Yogya, menurut Parta, masih berhasil menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan ruang hidup manusia.
“Di Yogyakarta saya melihat sebuah daerah yang masih memberi ruang bernapas bagi manusianya. Ritme hidupnya terasa lebih pelan. Ruang publiknya masih memberi tempat bagi orang untuk berjalan, berbincang, berkumpul, dan hidup lebih tenang,” tulisnya.
Kalimat itu terasa sederhana. Tetapi di balik kesederhanaannya tersimpan kritik yang tajam terhadap kondisi Bali hari ini.
Bali Bergerak Terlalu Cepat
Parta mengaku semakin gelisah ketika membandingkan situasi tersebut dengan Bali. Menurutnya, Bali hari ini sedang bergerak terlalu cepat. Ledakan industri pariwisata, investasi properti, pembangunan vila, hotel, beach club, hingga kawasan wisata internasional memang membuat ekonomi Bali terus tumbuh. Namun di sisi lain, ada harga sosial yang perlahan mulai dibayar masyarakat Bali.
Ia menyebut Bali kini sedang mengalami “kelelahan sosial”.
Kemacetan semakin parah. Persoalan sampah terus membesar. Sawah menyusut. Harga tanah makin tidak masuk akal bagi generasi muda Bali. Krisis air mulai muncul di banyak wilayah. Desa-desa berubah menjadi jalur wisata internasional.
Dan yang paling menyakitkan, menurut Parta, masyarakat lokal perlahan mulai merasa asing di tanahnya sendiri.
“Kita harus jujur mengakui bahwa Bali hari ini sedang menghadapi kelelahan sosial,” tulisnya.
Kalimat itu menjadi salah satu bagian paling banyak dikutip publik. Sebab selama ini Bali sering dipuji dunia sebagai surga wisata. Tetapi di balik gemerlap pariwisata global, banyak masyarakat Bali justru menghadapi tekanan hidup yang semakin berat.
Bali memang tampak indah bagi wisatawan. Tetapi apakah Bali masih nyaman untuk masyarakatnya sendiri? Pertanyaan itu menjadi inti kegelisahan Parta.
Ironi Pulau yang Dipuja Dunia
Sebagai wakil rakyat dari Bali, Parta menilai ironi terbesar Bali hari ini justru lahir dari keberhasilannya sendiri.
Semakin terkenal Bali di dunia, semakin besar tekanan yang dihadapi ruang hidup masyarakat lokal.
Hotel tumbuh cepat. Vila menjamur. Investasi asing masuk besar-besaran. Harga properti melonjak. Kawasan wisata meluas tanpa kendali.
Tetapi bersamaan dengan itu, ruang hidup warga menyempit. Anak muda Bali semakin sulit membeli tanah di kampung halamannya sendiri. Banyak yang akhirnya hanya menjadi pekerja di industri wisata tanpa memiliki akses terhadap kepemilikan ruang hidup.
Dalam catatannya, Parta mengingatkan bahwa pembangunan tidak boleh hanya diukur dari jumlah wisatawan dan investasi.
“Pertanyaan dasarnya sederhana: apakah semua pembangunan itu sudah cukup membuat masyarakat Bali hidup lebih nyaman?” tulisnya.
Menurutnya, ukuran kemajuan harus dikembalikan pada kualitas hidup manusia. Jika masyarakat makin stres, kemacetan makin buruk, ruang hijau hilang, dan generasi muda kehilangan masa depan di tanahnya sendiri, maka ada sesuatu yang salah dalam arah pembangunan tersebut.
Budaya Jangan Hanya Menjadi Dekorasi Pariwisata
Kegelisahan terbesar Parta tampaknya terletak pada posisi budaya Bali hari ini.
Ia mengingatkan bahwa budaya Bali jangan sampai hanya diperlakukan sebagai ornamen industri wisata.
Upacara jangan hanya menjadi tontonan turis. Tradisi jangan kehilangan makna spiritualnya. Dan masyarakat Bali jangan sekadar menjadi pelayan ekonomi pariwisata global.
“Kadang saya merasa kita terlalu sibuk menjual Bali kepada dunia, tetapi mulai kurang merawat Bali sebagai rumah bagi orang Bali sendiri,” tulisnya.
Pernyataan itu terasa sangat dalam. Sebab selama puluhan tahun Bali memang tumbuh dengan fondasi pariwisata budaya. Tetapi ketika budaya terlalu lama diposisikan sebagai komoditas ekonomi, muncul kekhawatiran bahwa identitas itu perlahan kehilangan ruhnya.
Parta tidak menolak pariwisata. Ia secara tegas menyebut pariwisata telah memberi kehidupan bagi jutaan masyarakat Bali.
Namun ia mengingatkan bahwa pembangunan harus tetap berpihak kepada manusia dan keberlanjutan budaya.
“Bali tidak boleh hanya indah untuk wisatawan. Bali juga harus nyaman bagi masyarakatnya sendiri.”
Suara Kegelisahan yang Mewakili Banyak Orang Bali
Tulisan reflektif Parta segera mendapat respons luas di media sosial. Banyak warga Bali merasa apa yang disampaikan legislator PDIP tersebut adalah suara kegelisahan yang selama ini dirasakan banyak orang tetapi jarang diucapkan secara terbuka.
Sebab di tengah euforia pertumbuhan ekonomi dan booming pariwisata, sebagian masyarakat Bali memang mulai merasakan tekanan hidup yang semakin nyata.
Kemacetan kini menjadi bagian sehari-hari. Sampah menjadi ancaman serius. Ruang hijau terus berkurang. Kawasan suci mulai terdesak pembangunan. Harga rumah makin sulit dijangkau generasi muda.
Sementara itu, desa-desa adat menghadapi tantangan berat menjaga keseimbangan antara tradisi dan tekanan industri wisata global.
Catatan Parta menjadi menarik karena disampaikan bukan dengan nada marah, melainkan melalui kegelisahan yang reflektif.
Ia tidak menyerang siapa pun. Ia justru mengajak Bali bercermin. Dan mungkin, justru karena itulah pesannya terasa lebih kuat.
Bali Sedang Menentukan Masa Depannya
Di akhir refleksinya, tersirat satu pesan penting: Bali hari ini sedang berada di persimpangan sejarah. Apakah Bali akan terus bergerak menjadi mesin industri pariwisata global tanpa batas?
Ataukah Bali akan mulai menata ulang arah pembangunan agar tetap memberi ruang hidup yang layak bagi masyarakatnya sendiri?
Pertanyaan itu belum selesai dijawab. Namun melalui catatan sederhana dari Yogyakarta, I Nyoman Parta seolah ingin mengingatkan bahwa pembangunan sejati bukan hanya soal pertumbuhan ekonomi.
Tetapi tentang bagaimana manusia tetap bisa hidup nyaman, bermartabat, dan merasa memiliki rumahnya sendiri.
Dan mungkin, dari Kota Gudeg itulah, Bali sedang diajak untuk mulai bercermin.





