banner 728x90

Kisah Ibu Novi Jadi Bukti, Kinerja Menteri Mukhtarudin Dorong Pekerja Migran Naik Kelas

“ibu Novita mukhtatudin
banner 120x600

JAKARTA – Keberhasilan pekerja migran Indonesia (PMI) tidak lagi hanya diukur dari besarnya remitansi yang dikirim ke tanah air, tetapi juga dari kemampuan mereka bertransformasi menjadi pelaku usaha setelah kembali. Di bawah kepemimpinan Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Mukhtarudin arah kebijakan perlindungan PMI mulai bergeser ke penguatan kualitas sumber daya manusia dan pemberdayaan ekonomi pasca-kepulangan.

Salah satu contoh nyata adalah kisah Ibu Novi atau Novita, seorang mantan pekerja migran yang selama sembilan tahun bekerja sebagai perawat di Kuwait. Dengan ketekunan dan perencanaan matang, ia tidak hanya mengumpulkan tabungan, tetapi juga menyerap keterampilan profesional, etos kerja, dan jejaring internasional yang kemudian menjadi modal penting saat kembali ke Indonesia.

“Ibu Novita adalah contoh nyata keberhasilan brain circulation. Selama sembilan tahun menjadi perawat di Kuwait, beliau pulang membawa pengalaman, jejaring, dan modal untuk mengembangkan diri. Inilah sosok pekerja migran yang dulu bekerja untuk orang lain, sekarang sudah berwirausaha dan mempekerjakan orang lain,” kata Mukhtarudin.

Sepulangnya ke tanah air, Ibu Novi membangun usaha di bidang layanan kesehatan berbasis homecare serta pelatihan caregiver. Usahanya berkembang karena mengadopsi standar pelayanan yang ia pelajari di luar negeri. Kini, usahanya mampu menyerap tenaga kerja lokal, termasuk mantan PMI lain yang ingin meningkatkan keterampilan dan penghasilan mereka.

Kementerian P2MI mencatat bahwa tren pekerja migran yang beralih menjadi wirausaha terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Data internal menunjukkan bahwa ribuan PMI purna telah mengikuti program pelatihan kewirausahaan dan literasi keuangan, dengan sebagian di antaranya berhasil membuka usaha mikro dan kecil di berbagai daerah. Selain itu, nilai remitansi PMI Indonesia setiap tahun tetap berada di kisaran ratusan triliun rupiah, yang menjadi salah satu penopang ekonomi nasional sekaligus modal awal bagi banyak PMI untuk memulai usaha setelah kembali.

Dalam konteks ini, kinerja Menteri Mukhtarudin dinilai penting karena tidak hanya fokus pada perlindungan saat penempatan, tetapi juga pada keberlanjutan ekonomi para pekerja migran. Program peningkatan kompetensi sebelum keberangkatan, sertifikasi keahlian, hingga pendampingan usaha setelah kembali menjadi bagian dari strategi besar pemerintah untuk menciptakan PMI yang mandiri.

Selain Ibu Novi, sejumlah kisah sukses lain juga bermunculan. Seorang mantan PMI di Hong Kong kini sukses mengembangkan bisnis kuliner dengan cita rasa internasional, sementara eks pekerja di Taiwan membangun usaha percetakan digital yang mampu bersaing di pasar lokal. Ada pula PMI purna dari Malaysia yang kini menjalankan usaha konstruksi kecil dan mempekerjakan warga sekitar.

Fenomena ini memperkuat narasi bahwa pekerja migran bukan hanya “pahlawan devisa”, tetapi juga agen transformasi ekonomi. Namun demikian, tantangan masih ada, terutama dalam memastikan akses permodalan, pendampingan usaha, serta kesinambungan program pemerintah agar lebih merata menjangkau PMI di seluruh daerah.

Pemerintah menilai bahwa keberhasilan seperti yang dialami Ibu Novi harus direplikasi secara sistematis. Dengan dukungan kebijakan yang tepat dan ekosistem yang kuat, para pekerja migran diharapkan tidak hanya sukses di luar negeri, tetapi juga mampu membangun kemandirian ekonomi ketika kembali ke Indonesia.