Kisah Seorang Security Profesional
Di dunia pengamanan, nama bukanlah yang utama. Maka sebut saja ia Mr. X, seorang security profesional yang memegang teguh nilai disiplin, etika, dan tanggung jawab.
Pada suatu penempatan tugas, Mr. X merasa heran. Di tempat ia bekerja, ia melihat banyak hal yang berbeda dari bayangannya tentang profesi security. Ada rekan yang bertato mencolok, ada pula yang tingkah lakunya menyerupai perempuan,bahkan postur tinggi badan tdk di perhitungkan.
Bagi Mr. X, perbedaan fisik dan gaya bukan masalah utama—yang membuatnya resah adalah sikap dan cara bertugas.
Di pos jaga, sebagian petugas lebih sibuk bermain ponsel daripada mengawasi lingkungan. Ada yang duduk bercengkerama, nongkrong bersama divisi lain, tertawa keras seolah lupa bahwa mereka sedang bertugas. Seragam dikenakan, namun jiwa pengamanan seakan tertinggal entah di mana.
Mr. X hanya bisa bertanya dalam hati:
“Sebenarnya, apa tugas seorang security?”
Baginya, security bukan sekadar berdiri di pos atau mengenakan seragam. Security adalah mata dan telinga perusahaan. Ia hadir untuk mencegah, bukan menunggu kejadian. Ia dituntut waspada, tegas namun santun, siap bertindak cepat dalam situasi darurat, serta menjadi contoh kedisiplinan bagi lingkungan sekitarnya.
Security sejati tidak larut dalam kelalaian. Ia tidak menjadikan ponsel sebagai teman setia saat berjaga. Ia paham bahwa satu detik lengah bisa berakibat panjang. Ia tahu, kehadirannya memberi rasa aman bagi banyak orang—tamu, karyawan, dan aset yang dipercayakan kepadanya.
Mr. X tetap menjalankan tugasnya dengan penuh tanggung jawab. Ia percaya, profesionalisme tidak ditentukan oleh penilaian orang lain, melainkan oleh integritas diri sendiri. Meski lingkungan tak selalu ideal, ia memilih untuk tetap berdiri tegak pada prinsip.
Karena baginya, menjadi security bukan sekadar pekerjaan—
melainkan sebuah kehormatan dan amanah.
Di sebuah perusahaan besar, bertugaslah seorang petugas keamanan yang kita sebut saja Mister X. Ia dikenal sebagai security yang rapi, disiplin, dan memahami betul arti tanggung jawab. Namun di balik seragam yang ia kenakan, Mister X menyimpan rasa malu yang semakin hari semakin berat ia pikul.
Rasa malu itu muncul setiap kali ia berhadapan dengan General Manager (GM) di tempatnya bertugas. Sudah berkali-kali GM mengingatkan agar seluruh petugas security menerapkan prinsip 3S: Salam, Senyum, dan Sapa, serta menjaga disiplin dan tanggung jawab sebagai garda terdepan perusahaan. Namun, apa yang diharapkan pimpinan tak sejalan dengan kenyataan di lapangan.
Fakta yang terjadi justru sebaliknya. Ada petugas yang sibuk bermain ponsel saat jam tugas, ada yang berkumpul dan nongkrong di pos, bahkan ada yang bertingkah seolah lupa bahwa ia adalah seorang security. Aturan seakan hanya tertulis di kertas, bukan diterapkan dalam sikap dan perilaku sehari-hari.
Suatu hari, Mister X memberanikan diri menyampaikan kekurangan yang ada di tubuh security. Dalam penyampaiannya, ia mendengar jawaban bahwa saat ini pimpinan sedang berusaha memperbaiki anggota yang ada di bawahnya terlebih dahulu. Mendengar itu, Mister X dengan jujur menyampaikan isi hatinya.
“Anggota itu cerminan dari pimpinannya,” kata Mister X. “Disiplin dan rasa bangga tidak akan tumbuh tanpa adanya pembinaan. Bagaimana anggota bisa disiplin, jika mereka tidak pernah benar-benar dibina dan diarahkan?”
Ucapan itu bukan bentuk perlawanan, melainkan jeritan hati seorang security yang masih peduli pada marwah profesinya. Namun setelah kejadian itu, sesuatu dalam diri Mister X berubah. Ia yang dulu penuh semangat, perlahan kehilangan gairah. Rasa malu semakin menghantuinya—malu melihat kenyataan bahwa security bukan lagi menjalankan peran sebagai security, dan malu terhadap pimpinan perusahaan yang berharap lebih.
Mister X merasa seakan berdiri sendiri, menjaga nilai-nilai kedisiplinan di tengah lingkungan yang mulai abai. Ia sadar, tanpa pembinaan, tanpa keteladanan dari pimpinan, seragam hanyalah pakaian, bukan simbol tanggung jawab.
Kisah ini hanyalah sebuah karangan. Jika terdapat kesamaan peristiwa, tokoh, atau keadaan, semata-mata itu adalah kebetulan. Tidak ada maksud menyebut atau menyudutkan yayasan maupun organisasi mana pun. Kisah ini hanya ingin menggambarkan bahwa tugas seorang security bukan sekadar berjaga, tetapi menjaga nilai, sikap, dan kehormatan profesi.








