WMC|| Surabaya, – Polemik yang sempat mencuat antara Wakil Wali Kota Surabaya Armuji dan Organisasi Masyarakat (Ormas) Madura Asli Sedarah akhirnya menemui titik temu. Kedua belah pihak sepakat menyelesaikan permasalahan secara damai melalui proses mediasi yang difasilitasi Kampus Kebangsaan Universitas Dr Soetomo (Unitomo), Surabaya, Selasa (6/1/2026).
Mediasi tersebut ditutup dengan suasana penuh kehangatan. Wakil Wali Kota Surabaya Armuji dan Ketua Umum Madas Sedarah, Muhammad Taufik, saling berjabat tangan dan berpelukan sebagai simbol penyelesaian persoalan sekaligus komitmen menjaga kondusivitas Kota Surabaya. Langkah ini sekaligus meluruskan berbagai isu yang berkembang di tengah masyarakat terkait dugaan keterlibatan ormas dalam peristiwa pengusiran terhadap seorang lansia bernama Nenek Elina
Sebelumnya, hubungan antara kedua pihak sempat memanas. Madas Sedarah diketahui telah melaporkan Armuji ke Polda Jawa Timur atas dugaan penyebaran informasi yang dinilai tidak akurat melalui media sosial. Laporan tersebut disampaikan langsung oleh Ketua Umum DPP Madas Sedarah, Muhammad Taufik, yang menegaskan bahwa pihaknya menempuh jalur hukum sebagai bentuk tanggung jawab menjaga nama baik organisasi.
“Kami mengapresiasi laporan yang telah diterima dengan pelayanan yang cepat dan profesional. Ada dua hal yang kami laporkan, salah satunya berkaitan dengan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), terkait sejumlah akun media sosial yang diduga menyebarkan informasi tidak benar,” ujar Taufik, Senin (5/1/2026).
Ia menjelaskan, beberapa unggahan dari akun tertentu dinilai memicu keresahan dan berdampak pada tindakan-tindakan yang mengatasnamakan kelompok tertentu di Surabaya. Menurutnya, hal tersebut tidak mencerminkan karakter masyarakat Surabaya secara umum.
“Kami meyakini warga Surabaya menjunjung tinggi nilai persaudaraan dan ketertiban. Apa yang terjadi kami pandang sebagai tindakan oknum, dan kami berharap dapat ditindak sesuai ketentuan hukum yang berlaku,” tambahnya.
Taufik juga menegaskan bahwa Madas Sedarah memilih mengedepankan langkah hukum dan dialog terbuka agar persoalan tidak berkembang menjadi konflik berkepanjangan. Ia berharap semua pihak dapat melihat peristiwa ini secara objektif dan proporsional sesuai aturan perundang-undangan.
Polemik ini bermula dari beredarnya sebuah video di media sosial terkait dugaan pengusiran Nenek Elina, seorang warga lanjut usia, yang kemudian menjadi perhatian publik. Dalam video tersebut, Armuji sempat menyebut nama ormas tertentu berdasarkan informasi awal yang diterimanya, sehingga memicu keberatan dari pihak Madas Sedarah.
gat








