KOTA MAGELANG – Kebijakan pemasangan patok di kawasan Kompleks Pecinan sepanjang Jalan Pemuda, Kota Magelang, menuai keluhan dari sejumlah tukang becak yang biasa mencari nafkah di area tersebut serta pedagang pedagang kecil. Mereka mengaku akses yang sebelumnya dapat dilalui kini menjadi terbatas sehingga berdampak langsung pada penghasilan harian.(Selasa,10/03/2026)
Salah satu pengayuh becak, JMD (65), mengatakan dirinya merasa dirugikan dengan adanya patok yang dipasang di kawasan tersebut. Ia mengaku selama ini menggantungkan hidup dari becak sewaan dengan biaya sewa harian sekitar Rp50 ribu.
“Becak ini saya sewa, sehari harus bayar Rp50 ribu. Sekarang malah tidak ada penumpang. Saya juga tidak punya becak sendiri,” ujar JMD saat ditemui wartawan, Selasa (Selasa,10/3/2026).

JMD juga menuturkan bahwa dirinya sempat mendaftar dalam program pembagian becak listrik yang merupakan bagian dari program pemerintah. Namun hingga kini ia belum menerima bantuan tersebut.
“Saya sudah mendaftar, tapi sampai sekarang belum ada kabar. Malah yang katanya belum mendaftar justru dapat becak listrik,” ungkapnya.
Menurutnya, sejak pemasangan patok di kawasan Pecinan, ruang gerak para tukang becak menjadi semakin terbatas. Ia mengaku kini hanya bisa menunggu penumpang di sekitar kawasan depan Matahari, yang menurutnya sudah berlangsung selama beberapa bulan terakhir.
“Di Pecinan sekarang susah lewat karena dipatok. Jadi kami tidak bisa lewat seperti dulu. Sekarang hanya mangkal di depan Matahari saja, sudah berbulan-bulan seperti ini,” keluhnya.
Ia juga menyayangkan pemasangan patok tersebut dilakukan tanpa adanya sosialisasi terlebih dahulu kepada para tukang becak yang selama ini beroperasi di kawasan tersebut.
“Tidak ada pemberitahuan sebelumnya. Tahu-tahu sudah dipasang saja. Kalau ada apa-apa di jalan jadi susah, harus muter jauh,” katanya.

Selain JMD, keluhan serupa juga disampaikan oleh IW (76), tukang becak lain yang sebelumnya sering mangkal di kawasan Pecinan. Ia mengaku pendapatannya menurun drastis karena banyak calon penumpang enggan melewati jalur tersebut.
“Sekarang pemasukan hampir tidak ada. Penumpang dari pasar yang biasanya lewat Pecinan jadi malas karena jalannya seperti ini,” ujar IW. (Selasa,10/03/2026)
Ia berharap pemerintah Kota Magelang dapat meninjau kembali kebijakan tersebut dan mempertimbangkan kepentingan para tukang becak yang menggantungkan hidup dari aktivitas di kawasan itu.
“Kalau bisa patok dan kursi itu dicabut saja supaya becak dan gerobak bisa lewat lagi,” katanya.
Keluhan juga datang dari pedagang kecil di sekitar kawasan Pecinan. Salah satu pedagang es krim berinisial W mengaku para pedagang kecil merasa kesulitan untuk menyampaikan aspirasi.
“Kadang kami takut bicara. Kalau bersuara biasanya nanti ada pihak yang datang. Padahal kami juga mencari makan di sini,” ujarnya.
Sementara itu, sejumlah tukang becak mengaku kini terpaksa melewati jalan raya karena trotoar telah dipasangi patok. Namun langkah tersebut juga berisiko karena pernah mendapat teguran dari petugas ketertiban.(Selasa,10/03/2026)
“Pernah diingatkan agar tidak lewat jalan raya karena berbahaya kalau berpapasan dengan kendaraan,” kata salah satu tukang becak.
Para pengayuh becak berharap pemerintah daerah dapat mencari solusi yang tidak merugikan masyarakat kecil, khususnya mereka yang menggantungkan penghasilan dari aktivitas transportasi tradisional di kawasan Pecinan, Jalan Pemuda, Kota Magelang.
Wartawan : Abrian Tamtama





