Oleh: Jumiati S. Adam
Jauh sebelum Islam dikenal pesat saat ini, disebuah kota tua Madinah telah hadir sosok mulia yang habits’nya menjadi patokan dan teladan ummat Muslim sedunia, sosok yang selalu terjaga baik sholatnya, tutur bahasanya, skill bersosialisasinya, sehingga tak salah jika banyak yang meneladani nya. Dan yang paling menonjol adalah Skill Dakwah yang dipakainnya dalam membantu kaum tertentu menemukan jalan kebenaran. Rintisan jalan dakwah lahir, jauh sebelum kelahiran sang Baginda yang Mulia Rasulullah shalallahu alaihi wasallam. Tetapi Dakwah tumbuh sangat pesat di era nya. Sehingga kaum milenial yang baru mengenal pergerakan dakwah saat ini, banyak yang meniruh terutama kiat-kiat beliau sehingga imannya bisa stabil dan terjaga seiring bertambahnya usia. Terbilang lagi dizaman yang lampau taktik Dakwah masih sangat terbilang biasa dan jauh dari dunia digital saat ini sehingga banyak spekulasi para generasi dan penasaran terkait taktik dakwah yang dipakai Rasulullah pada masa kenabiannya saat itu.
Di zaman saat ini dakwah bukan sekadar seruan lisan di atas mimbar, bukan pula sekadar postingan di media sosial yang viral sesaat. Dakwah adalah proses panjang, konsisten, dan berakar pada penjagaan diri, ilmu, dan niat. Sebab itu, dakwah tidak akan tumbuh dengan baik jika para pelakunya tidak dalam keadaan terjaga-terjaga keimanannya, terjaga akhlaknya, dan terjaga komitmennya terhadap nilai-nilai Islam.
Istilah “menjaga” sering kali diartikan secara pasif: menjaga diri dari dosa, menjaga lisan dari ucapan kotor, atau menjaga aurat dari pandangan. Namun dalam konteks dakwah, “terjaga” memiliki makna yang lebih dalam. Seorang da’i yang terjaga bukan hanya menghindari keburukan, tetapi aktif merawat hubungannya dengan Allah dan manusia. Ia sadar bahwa ucapannya tak akan bermakna jika tak selaras dengan perilakunya.
Dalam sebuah hadits “Sesungguhnya dalam jasad itu ada segumpal daging, jika ia baik maka seluruh jasad itu akan baik, dan jika ia rusak maka seluruh jasad itu akan rusak. Ketahuilah, ia adalah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menjadi pengingat bahwa kualitas dakwah sangat ditentukan oleh kualitas hati sang da’i. Ketika hati terjaga, maka lisan dan perbuatan pun akan mengikuti. Dakwah yang bersumber dari hati yang bersih akan menyentuh hati yang lain. Kita hidup di zaman di mana guncangan moral dan godaan dunia makin keras menghantam. Maka, siapa yang tidak menjaga dirinya, akan rapuh meski ucapannya lantang. Dakwah yang tidak dibarengi penjagaan diri hanya akan jadi formalitas, atau bahkan kontraproduktif saat pelakunya tergelincir dalam hal yang bertentangan dengan pesan yang ia bawa.
Rasulullah juga memberikan peringatan: “Barangsiapa yang menyeru kepada petunjuk, maka ia akan mendapat pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun…” (HR. Muslim)
Namun, bagaimana mungkin seseorang menyeru kepada petunjuk jika ia sendiri tidak menjaga dirinya dari penyimpangan? Maka menjadi pribadi yang terjaga bukan sekadar syarat moral, tapi juga syarat strategis agar dakwah bisa tumbuh dan diterima. Masyarakat kini lebih kritis. Mereka tidak hanya mendengar, tapi juga mengamati. Mereka tidak hanya ingin tahu apa yang benar, tapi juga siapa yang benar-benar konsisten. Maka mari kita jadikan penjagaan diri bukan sebagai batasan, melainkan sebagai fondasi. Karena dakwah bukan sekadar dijaga, ia akan tumbuh karena kita terus terjaga. ***