Jakarta – Justice and Democracy Forum (JDF) Asia Pasifik mengecam keras serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian PBB (UNIFIL) di Lebanon yang menyebabkan korban jiwa meninggal seorang prajurit TNI dan luka-luka. Tindakan tersebut dinilai sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional dan mencederai prinsip-prinsip dasar perlindungan terhadap misi perdamaian dunia.
Peristiwa ini juga menunjukkan berulangkali bahwa Israel memang tidak serius untuk mewujudkan perdamaian.
Presiden JDF Asia Pasifik, Dr. Jazuli Juwaini, menegaskan bahwa serangan terhadap pasukan UNIFIL tidak dapat dibenarkan dalam kondisi apa pun. “Pasukan UNIFIL berada di Lebanon atas mandat resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk menjaga stabilitas dan perdamaian. Menyerang mereka adalah bentuk pelanggaran serius terhadap hukum internasional dan harus ditindak tegas,” ujarnya.
JDF Asia Pasifik mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa dan komunitas internasional untuk:
1. Mengutuk keras serangan tersebut tanpa pengecualian
2. Melakukan investigasi independen dan transparan
3. Menjatuhkan sanksi tegas terhadap pihak yang bertanggung jawab yaitu Israel
3. Menjamin perlindungan maksimal bagi seluruh personel penjaga perdamaian
Lebih lanjut, JDF Asia Pasifik mengingatkan bahwa pembiaran terhadap insiden semacam ini akan menciptakan preseden berbahaya dan melemahkan kredibilitas sistem keamanan global.
Sebagai anggota DPR RI Fraksi PKS, Jazuli juga meminta Pemerintah Indonesia untuk mengambil sikap tegas dan proaktif dengan membawa persoalan ini ke Dewan Keamanan PBB. “Indonesia harus berada di garda depan dalam memperjuangkan keadilan internasional dan memastikan bahwa pelanggaran terhadap misi perdamaian tidak dibiarkan tanpa konsekuensi,” tegasnya.
JDF Asia Pasifik turut menyampaikan belasungkawa mendalam kepada korban dan keluarga yang ditinggalkan, serta solidaritas penuh kepada seluruh personel UNIFIL yang menjalankan tugas mulia menjaga perdamaian dunia.





