banner 728x90

Habib Aboe Kunker Panja AI ke DKV BINUS: AI Harus Jadi Mitra Kreatif, Bukan Musuh

Img 20260930 Wa0062
banner 120x600

JAKARTA — Panitia Kerja (Panja) Artificial Intelligence (AI) melakukan kunjungan kerja ke Program Desain Komunikasi Visual (DKV) BINUS University untuk menggali masukan akademisi, praktisi, dan mahasiswa terkait perkembangan kecerdasan artifisial serta dampaknya terhadap dunia pendidikan dan industri kreatif.

Dalam kunjungan tersebut, anggota Panja AI DPR RI, Habib Aboe Bakar Alhabsyi, menegaskan bahwa transformasi digital Indonesia tidak dapat hanya dibebankan kepada pemerintah. Perguruan tinggi, khususnya kampus yang memiliki ekosistem teknologi dan industri kreatif, dinilai memiliki posisi strategis dalam menyiapkan masa depan AI Indonesia.

“Kami di Panja Artificial Intelligence melihat bahwa transformasi digital Indonesia tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah. Peran perguruan tinggi, khususnya kampus berbasis teknologi terdepan seperti BINUS University, sangat krusial dan strategis,” ujar Habib Aboe.

Menurutnya, ada dua hal utama yang diharapkan dapat diperkuat melalui kolaborasi antara DPR, pemerintah, dan perguruan tinggi. Pertama, kontribusi akademisi dalam penyusunan regulasi AI yang inklusif dan berbasis data.

“Kami di DPR dan Panja AI membutuhkan masukan dari para pakar, praktisi, dan akademisi BINUS agar regulasi AI yang nantinya dirumuskan tidak kaku atau mematikan inovasi, tetapi mampu melindungi hak-hak masyarakat, etika, keamanan data, dan kedaulatan digital bangsa,” kata anggota Komisi III DPR RI tersebut.

Habib Aboe menilai perkembangan teknologi AI bergerak sangat cepat sehingga regulasi tidak boleh tertinggal. Karena itu, menurutnya, kerja sama antara regulator dan akademisi menjadi penting untuk memastikan kebijakan yang dibuat tetap relevan dengan perkembangan teknologi.

“Kerja sama antara regulator dan akademisi BINUS adalah kunci agar hukum kita bisa mengejar pesatnya laju teknologi,” tegasnya.

Selain aspek regulasi, Panja AI juga memberikan perhatian terhadap kebutuhan talenta digital. Indonesia, kata Habib Aboe, menghadapi peluang bonus demografi sekaligus tantangan kesenjangan talenta di bidang teknologi mendalam atau deep tech.

“Indonesia menghadapi potensi bonus demografi sekaligus tantangan talent gap di bidang teknologi mendalam. BINUS telah terbukti memiliki ekosistem pendidikan yang adaptif dan terhubung dengan industri,” papar Anggota DPR RI Dapil Kalsel I tersebut.

Ia berharap perguruan tinggi terus menghasilkan talenta AI yang memiliki kemampuan teknis sekaligus integritas dan pemahaman terhadap etika teknologi.

“Kami berharap BINUS terus melahirkan para ahli AI, data scientist, dan pengembang teknologi yang tidak hanya jago secara teknis, tetapi juga memiliki integritas moral serta pemahaman etika AI yang kuat sehingga siap bersaing di kancah internasional,” lanjutnya.

AI Bukan Pengganti Kreativitas Manusia

Dalam kunjungannya ke lingkungan DKV BINUS, Habib Aboe secara khusus menyampaikan pesan kepada mahasiswa dan alumni bidang kreatif yang kini menghadapi disrupsi akibat perkembangan AI generatif.

Menurutnya, kemampuan AI dalam menghasilkan gambar, ilustrasi, hingga video dalam hitungan detik memang menghadirkan perubahan besar bagi industri kreatif. Namun, perkembangan tersebut tidak seharusnya membuat insan kreatif kehilangan kepercayaan diri.

“Kepada anak-anakku, para mahasiswa dan alumni bidang kreatif seperti Desain Komunikasi Visual, jangan takut, tetapi juga jangan lengah,” pesannya.

Habib Aboe menekankan bahwa AI tetap merupakan alat yang membutuhkan manusia sebagai pengarahnya. Teknologi dapat memproses data dan menghasilkan visual dengan cepat, tetapi memiliki keterbatasan dalam memahami empati, konteks budaya, emosi, serta storytelling yang menyentuh manusia.

“AI adalah alat, bukan pengganti rasa dan empati humanis. AI bisa memproses jutaan data dan menghasilkan visual secara instan, tetapi AI tidak memiliki rasa empati, konteks budaya, pemahaman emosi mendalam, dan storytelling yang menyentuh hati manusia,” jelasnya.

Karena itu, ia mendorong mahasiswa DKV untuk tidak menempatkan AI sebagai ancaman, melainkan sebagai mitra kerja yang dapat memperkuat proses kreatif.

“Jangan posisikan AI sebagai musuh, jadikan AI sebagai asisten kreatif kalian,” kata Habib Aboe.

Ia juga mendorong mahasiswa untuk menguasai berbagai perangkat AI, termasuk prompt engineering, pembuatan prototipe secara cepat, dan eksplorasi ide, sehingga teknologi tersebut dapat digunakan untuk meningkatkan produktivitas sekaligus kreativitas.

“Desainer yang akan bertahan di masa depan bukanlah desainer yang menolak AI, melainkan desainer yang mahir memanfaatkan AI untuk melipatgandakan produktivitas dan kreativitasnya,” tegasnya.

Critical Thinking dan Etika Jadi Modal Utama

Di tengah semakin masifnya konten yang dihasilkan mesin, Habib Aboe juga mengingatkan pentingnya critical thinking, orisinalitas, serta etika dalam berkarya.

Menurutnya, persoalan keaslian karya, hak cipta, dan kedalaman konsep visual justru akan semakin penting ketika teknologi AI semakin mudah digunakan.

“Di tengah gempuran konten hasil buatan mesin, keaslian, etika hak cipta, dan kedalaman konsep visual akan menjadi aset yang sangat mahal. Jadilah perancang visual yang strategis—bukan sekadar pengeksekusi gambar,” ujarnya.

Ia mengajak mahasiswa dan insan kreatif untuk terus belajar dan berinovasi, namun tetap mempertahankan identitas serta kearifan lokal Indonesia.

“Teruslah belajar, berinovasi, dan jaga semangat pantang menyerah. Pertahankan identitas dan kearifan lokal kita dalam karya-karya kreatif kalian, lalu bawa karya tersebut ke panggung dunia,” pungkas Habib Aboe.

Kunjungan Panja AI ke DKV BINUS tersebut menjadi bagian dari upaya memperoleh perspektif akademik dan praktis dalam melihat perkembangan AI, baik dari sisi kebutuhan regulasi maupun kesiapan sumber daya manusia dan industri kreatif menghadapi transformasi teknologi.