Jakarta – Anggota Komisi XI DPR RI Amin Ak menyambut baik pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,47 persen (yoy) pada triwulan III 2026. Capaian ini lebih tinggi dari triwulan II 2026 (5,29 persen) dan triwulan III 2025 (5,04 persen), serta melampaui perkiraan banyak ekonom.
“Ini kabar baik yang patut kita syukuri. Ekonomi nasional masih tangguh di tengah ketidakpastian global,” ujar Amin Ak, Sabtu (7/11/2026).
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), konsumsi rumah tangga tumbuh 5,04 persen dan menyumbang 2,62 poin terhadap pertumbuhan. Investasi (PMTB) tumbuh 6,06 persen. Industri pengolahan menjadi sektor penyumbang terbesar dengan 1,20 poin, diikuti perdagangan dan konstruksi.
Sinyal serupa datang dari sektor manufaktur. PMI Manufaktur Indonesia Oktober 2026 naik ke 54,0, tertinggi sejak Maret 2024, dengan pesanan ekspor baru tumbuh tercepat sejak survei dimulai pada 2011.
Amin mengajak semua pihak membaca capaian ini secara jernih. Belanja pemerintah memang komponen yang tumbuh paling cepat, yakni 8,95 persen. Namun demikian lajunya masih lebih rendah dibanding triwulan II (15,97 persen).
Sedangkan konsumsi rumah tangga tumbuh 5,04 persen dan investasi 6,06 persen. Tumbuh sedikit lebih lambat dibanding triwulan sebelumnya.
Pertumbuhan total tetap naik karena beban dari impor terhadap perekonomian mengecil. Artinya, mesin pertumbuhan dari dalam negeri belum sepenuhnya menguat.
“Pertumbuhan yang sehat harus berpijak pada daya beli masyarakat dan investasi swasta, bukan hanya belanja pemerintah,” katanya.
Amin juga menyoroti sejumlah risiko.
Pertama, Rupiah dan suku bunga. Kurs Rupiah sekitar Rp17.985 per dolar AS pada 20 Oktober 2026, BI-Rate bertahan 5,75 persen, dan cadangan devisa turun menjadi US$146,3 miliar pada akhir September 2026.
Kedua, neraca dagang. Surplus Januari–September 2026 hanya US$10,61 miliar, turun dari US$33,54 miliar tahun lalu karena impor tumbuh lebih cepat daripada ekspor.
Ketiga, inflasi pangan. Inflasi Oktober 2026 sebesar 3,23 persen, dengan harga bergejolak (pangan) mencapai 5,81 persen.
APBN.
Keempat, defisit hingga September 2026 Rp319 triliun (1,24 persen PDB). Proyeksi akhir tahun sekitar 2,8 persen perlu dijaga agar tetap kredibel.
Amin menambahkan, kemiskinan memang turun menjadi 8,07 persen pada Maret 2026, tetapi rasio Gini naik ke 0,368. Artinya, manfaat pertumbuhan belum sepenuhnya dirasakan merata.
“Pertumbuhan tinggi harus diterjemahkan menjadi peningkatan daya beli, lapangan kerja layak dan harga kebutuhan pokok yang terjangkau,” tegasnya.
Ia pun mendorong pemerintah dan Bank Indonesia menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan inflasi secara terkoordinasi, memperkuat ekspor manufaktur, serta memastikan belanja negara tepat sasaran dan efisien.







