banner 728x90

Adde Rosi: Pendidikan Pancasila Harus Jadi Gerakan Pembiasaan, Bukan Sekadar Pelajaran

Screenshot 20260917 085202 Video Player
banner 120x600

JAKARTA – Anggota Komisi X DPR RI Adde Rosi Khoerunnisa menyoroti lemahnya porsi Pendidikan Pancasila dalam kurikulum saat ini. Menurutnya, tantangan pembentukan karakter di tengah gempuran globalisasi tidak bisa dijawab dengan pembelajaran yang hanya satu jam dalam seminggu.

Hal itu disampaikan Adde Rosi saat menghadiri dan mengawal Diskusi Publik Fraksi Partai Golkar MPR RI bertema “Pancasila Sebagai Falsafah dan Dasar Negara: Penguatan Pendidikan Pancasila Dalam Sistem Pendidikan Nasional”.

“Rasa ini harus dilatih betul. Gimana bisa melatihnya kalau pendidikan Pancasila atau PPKN seminggu cuman sekali, satu jam seminggu,” ungkap Adde Rosi.

Wakil rakyat dari Fraksi Golkar ini menilai, ideologi dan kecintaan pada bangsa dibentuk melalui pembiasaan di satuan pendidikan, bukan sekadar hafalan.

Ia menawarkan dua opsi konkret untuk dipertimbangkan pemerintah ke depan. Pertama, merombak kurikulum agar bermuara pada pembelajaran Pancasila yang lebih mendalam. Kedua, mewajibkan pembiasaan harian sebelum jam pelajaran dimulai.

“Apakah dalam kurikulum ke depan kita rubah kurikulumnya sehingga menjadi belajar Pancasila. Atau setiap hari siswa-siswi kita sebelum masuk sekolah itu harus ada silent shifting 10-15 menit,” ujarnya.

Langkah tersebut, lanjutnya, adalah upaya untuk memaksimalkan potensi sekolah dalam mensosialisasikan dan menginternalisasikan nilai-nilai luhur bangsa.

“Mengolah rasa Pancasila kita dalam setiap rakyat Indonesia. Pendidikan kita tidak boleh hanya mengejar keterampilan teknis, tapi harus menyentuh hati, mengajarkan empati, gotong royong, dan kebhinekaan sebagai kompas moral yang kuat,” pungkasnya.