MATRAMAN, JAKARTA TIMUR – Semangat perempuan dalam dunia olahraga tenis meja mendapat ruang istimewa melalui Turnamen Mini (Turmini) Srikandi Divisi 11 yang diselenggarakan Persatuan Tenis Meja Matraman (PTM Matraman) di GOR Matraman, Minggu (1/11/2026).
Turnamen yang diikuti 27 peserta tersebut mendapat apresiasi dari tokoh tenis meja sekaligus atlet pingpong Matraman, Anom Mariyanto Sasono. Ia menilai kegiatan ini menjadi bukti bahwa olahraga dapat berkembang menjadi sarana pemberdayaan perempuan sekaligus memperkuat ikatan sosial masyarakat.
Anom, yang merupakan salah satu penggagas awal Matraman Cup, melihat kehadiran Turmini Srikandi sebagai langkah positif dalam memperluas partisipasi masyarakat, khususnya kaum perempuan, dalam olahraga tenis meja.
Menurutnya, selama ini olahraga pingpong tidak seharusnya hanya identik dengan kaum laki-laki atau kalangan atlet profesional. Perempuan, termasuk para ibu rumah tangga, juga memiliki kesempatan yang sama untuk berolahraga, berkompetisi, dan mengembangkan kemampuan.
“Ini sebuah langkah yang patut diapresiasi. Kita ingin ibu-ibu tidak hanya menjadi penonton, tetapi ikut mengambil bagian dalam kegiatan olahraga. Dari sesama perempuan bisa saling mengajak, saling mendukung, dan akhirnya tumbuh kecintaan terhadap tenis meja,” ujar Anom.
Ia menambahkan, kekuatan utama kegiatan olahraga berbasis komunitas terletak pada kemampuan membangun kedekatan antarmasyarakat. Pertandingan bukan semata-mata tentang siapa yang menang dan kalah, tetapi juga bagaimana menciptakan ruang perjumpaan yang positif.
Matraman Bisa Jadi Inspirasi Jakarta Timur
Anom menilai keberhasilan PTM Matraman menggelar turnamen khusus perempuan dapat menjadi inspirasi bagi komunitas tenis meja lainnya di Jakarta Timur.
Baginya, Matraman telah memperlihatkan bahwa semangat memajukan olahraga harus diwujudkan melalui aksi konkret. Tidak cukup hanya mengampanyekan pentingnya olahraga, tetapi perlu menghadirkan kegiatan yang bisa diikuti dan dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat.
Ia berharap model kegiatan seperti Turmini Srikandi dapat direplikasi di wilayah lain agar pembinaan olahraga semakin inklusif dan menjangkau lebih banyak kalangan.
“Matraman harus bisa menjadi contoh. Kita ingin membangun budaya olahraga dari lingkungan masyarakat sendiri. Kalau komunitasnya bergerak, kegiatannya berjalan, dan masyarakat ikut terlibat, maka olahraga akan tumbuh dengan sendirinya,” ungkapnya.
Dari Lapangan Pingpong Menuju Peluang Ekonomi
Lebih jauh, Anom mengingatkan bahwa kegiatan olahraga memiliki potensi ekonomi dan sosial yang tidak boleh diabaikan.
Menurutnya, pertemuan komunitas dalam sebuah turnamen bisa membuka banyak peluang, mulai dari memperluas persahabatan, membangun jaringan, memperkenalkan produk UMKM, hingga menciptakan kesempatan usaha baru.
Karena itu, ia mengajak seluruh peserta dan komunitas agar tidak memandang turnamen hanya sebagai ajang pertandingan.
“Jangan datang hanya untuk bertanding, lalu pulang. Manfaatkan kesempatan ini untuk saling mengenal, membangun persahabatan, memperluas jaringan, dan mengenalkan produk UMKM. Dari lapangan pingpong pun bisa lahir peluang usaha dan kegiatan sosial,” jelasnya.
Ia juga berharap PTM Matraman terus mengembangkan kegiatan olahraga yang melibatkan perempuan secara berkelanjutan. Dengan begitu, semakin banyak ibu-ibu yang memiliki ruang untuk menjaga kesehatan, meningkatkan keterampilan, serta membangun kepercayaan diri melalui kompetisi.
Persaingan Sehat, Apresiasi untuk Para Pemenang
Turmini Srikandi Divisi 11 berlangsung dengan penuh semangat dan kebersamaan. Sebanyak 27 peserta mengikuti pertandingan dengan total hadiah Rp1 juta.
Berdasarkan hasil pertandingan, Bu Sumi berhasil meraih Juara I, disusul Bu Dwi Agnes sebagai Juara II. Sementara posisi Juara III diraih bersama oleh Bu Harni dan Bu Wati.
Adapun peserta yang berhasil menembus babak delapan besar adalah Bu Susi, Mama Queen, Adik Rahma yang masih duduk di kelas V SD, serta Mba Yuni.
Keikutsertaan Rahma yang masih berusia sekolah dasar menjadi gambaran bahwa olahraga tenis meja dapat mempertemukan berbagai generasi dalam satu ruang kompetisi yang sehat dan penuh kegembiraan.
Bagi Anom, keberhasilan penyelenggaraan Turmini Srikandi merupakan modal penting untuk membangun ekosistem olahraga masyarakat yang lebih kuat.
Ia berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai turnamen satu kali, tetapi berkembang menjadi agenda rutin yang mampu melahirkan lebih banyak atlet perempuan sekaligus memperkuat solidaritas warga.
“Yang kita bangun bukan hanya pertandingan, tetapi komunitas. Kita ingin perempuan semakin aktif, masyarakat semakin sehat, persaudaraan semakin erat, dan dari olahraga muncul manfaat ekonomi serta sosial bagi lingkungan,” pungkasnya.
Melalui Turmini Srikandi, PTM Matraman memberikan pesan bahwa meja pingpong bukan sekadar tempat bertanding. Di sana, persaudaraan dibangun, keberanian perempuan tumbuh, dan potensi masyarakat menemukan ruang untuk berkembang.








