JEMBER – Peringatan Haul ke-50 Habib Sholeh Tanggul 2026 di Tanggul kembali menunjukkan pergeseran menarik: dari sekadar tradisi religius menjadi ruang temu antara kekuatan spiritual, sosial, dan elite negara.
Sejumlah tokoh nasional tampak hadir, di antaranya Anggota Komisi III DPR RI Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Menteri ATR/BPN Nusron Wahid, serta Komisioner KPK Agus Joko Pramono. Kehadiran mereka menegaskan bahwa haul tidak hanya memiliki dimensi spiritual, tetapi juga menjadi titik temu kepentingan sosial dan kebangsaan.
Dalam sambutan yang diberikan atas undangan Habib Muchdar bin Muhammad bin Sholeh bin Muhsin Alhamid, Habib Aboe menyoroti posisi haul sebagai penanda penting dalam menjaga arah moral publik.
“Satu hal yang mendasar dan penting buat kita, haul-haul ini menjadi patok di republik kita ini. Patok di mana sebagai tempat orang mengingat ulama-ulama kita yang berakhlakul karimah, yang berilmu yang dalam, dan orang sebut dia wali,” kata Habib Aboe seperti dikutip di media sosial miliknya, Ahad (5/4/2026).
Politisi PKS itu juga menyinggung besarnya arus jamaah yang datang dari berbagai daerah sebagai refleksi kuatnya daya tarik spiritual ulama di tengah masyarakat modern.
“Keberkahan ini bukan sembarangan. Keikhlasan datang dengan sedemikian rupa… pada waktu yang sama keberkahannya insyaAllah dapat dari Allah SWT,” terang Habib Aboe.
Namun lebih jauh, Habib Aboe membuka sisi lain yang jarang diungkap ke publik: relasi erat antara ulama dan pengambil kebijakan negara. Ia mengakui bahwa banyak pemimpin menjadikan ulama sebagai rujukan dalam mengambil keputusan.
“Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, ulama-ulama ini adalah orang-orang yang paling menjadi penasehat pimpinan-pimpinan bangsa kita. Tidak sedikit pimpinan yang saya mendatangi beliau minta nasihat, memohon petuah dan sebagainya,” papar Habib Aboe.
Pernyataan ini memperlihatkan bahwa pengaruh ulama tidak berhenti pada ruang dakwah, tetapi juga merambah pada arah kebijakan dan kepemimpinan nasional.
Dari sisi tuan rumah, Habib Muchdar bin Muhammad bin Sholeh bin Muhsin Alhamid memberikan respons atas sambutan tersebut.
“Alhamdulillah, terima kasih. Meski sebentar, sedikit tapi mendasar dan sangat mendalam. Semoga bermanfaat,” ucap Habib Muchdar.
Di lapangan, skala acara yang menghadirkan puluhan ribu jamaah turut menggerakkan ekonomi lokal. Pedagang kaki lima, UMKM, hingga sektor transportasi mengalami lonjakan aktivitas signifikan. Namun di sisi lain, kepadatan massa juga menuntut pengelolaan serius, mulai dari rekayasa lalu lintas hingga sistem pengamanan terpadu.
Fenomena ini mempertegas bahwa haul telah berkembang menjadi ekosistem besar: menggabungkan spiritualitas, ekonomi rakyat, hingga interaksi elite nasional. Dalam konteks ini, Haul Habib Sholeh Tanggul tidak hanya menjadi ruang doa, tetapi juga cermin bagaimana agama, masyarakat, dan negara saling berkelindan dalam kehidupan Indonesia modern.





