PALU – Anggota DPR RI Habib Aboe Bakar Alhabsyi menghadiri Haul ke-58 Al-Habib Idrus bin Salim Al-Jufri atau yang dikenal sebagai Guru Tua, yang digelar di kompleks Alkhairaat Pusat, Palu, Sulawesi Tengah. Kegiatan tersebut berlangsung khidmat dengan dihadiri ratusan ribu jamaah dari berbagai penjuru Indonesia.
Dalam suasana penuh haru dan kebersamaan, Habib Aboe mengungkapkan rasa syukur karena dapat kembali hadir di tengah lautan umat dalam momentum haul ulama besar yang dikenal sebagai pelopor pendidikan dan dakwah di kawasan timur Indonesia tersebut.
“Guru Tua bukan sekadar tokoh agama, tetapi arsitek peradaban. Melalui Alkhairaat, beliau menanamkan nilai bahwa Islam dan nasionalisme berjalan beriringan,” ujar Habib Aboe kepada wartawan, Jakarta, Rabu (1/3/2026).
Ia juga menyinggung pesan monumental Guru Tua yang menegaskan kecintaan terhadap Tanah Air, bahwa bendera merah putih merupakan simbol kemuliaan yang tertanam kuat di dalam sanubari umat.
Menurut Habib Aboe, Haul Guru Tua ke-58 menjadi momentum penting untuk memperkuat nilai-nilai kebangsaan di tengah keberagaman. Ia melihat langsung bagaimana para abnaul khairaat dari berbagai latar belakang suku dan daerah berkumpul tanpa sekat, mencerminkan wajah Indonesia yang sesungguhnya.
“Di sini kita melihat miniatur Indonesia. Semua duduk bersama, tanpa perbedaan. Ini adalah kekuatan besar bangsa kita,” katanya.
Lebih lanjut, Habib Aboe menekankan pentingnya dakwah yang menyejukkan sebagaimana diwariskan Guru Tua. Ia menilai pendekatan dakwah yang merangkul menjadi sangat relevan di tengah dinamika sosial dan politik yang kerap memanas.
Selain itu, ia juga menyoroti peran pendidikan sebagai kunci utama menjaga persatuan bangsa. Menurutnya, kontribusi Alkhairaat dalam mencerdaskan kehidupan bangsa merupakan bentuk nyata perjuangan yang harus terus dilanjutkan.
“Dengan pendidikan, masyarakat tidak mudah terprovokasi hoaks dan adu domba. Ini adalah jihad yang nyata dalam menjaga keutuhan bangsa,” tegasnya.
Menutup pernyataannya, Habib Aboe mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadikan momentum haul sebagai sarana memperkuat komitmen kebangsaan dan persatuan.
“Haul ini bukan sekadar agenda tahunan, tetapi momentum untuk mengisi ulang semangat spiritual dan kebangsaan kita. Mari kita teladani Guru Tua dalam menjaga keutuhan NKRI,” pungkasnya.
Ia pun berharap agar Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat kepada Guru Tua, keluarga, serta seluruh perjuangan Alkhairaat dalam membangun Indonesia yang lebih bermartabat.





