banner 728x90
Opini  

Harlah ke-113 Hijriyah Mathla’ul Anwar: Mengokohkan Jati Diri, Meluaskan Peran Pendidikan, Dakwah, dan Sosial

Img 20260402 Wa0061
banner 120x600

Oleh: Dr. KH. Jazuli Juwaini, MA, Anggota DPR RI Dapil Banten, Kader Mathla’ul Anwar

10 Syawal ditetapkan sebagai hari lahir (Harlah) Mathla’ul Anwar dalam kalender hijriyah, dan tahun 1447 H usia organisasi ini telah mencapai 113 tahun. Capaian usia ini bagi Mathla’ul Anwar bukan sekadar penanda perjalanan waktu yang panjang, melainkan cermin dari keteguhan sebuah gerakan yang lahir dari keprihatinan dan harapan.

Sejak awal berdirinya pada tahun 1916 / 1334 H di Menes, Banten, organisasi ini telah menegaskan dirinya sebagai cahaya bagi umat—sebagaimana makna namanya, “Mathla’ul Anwar”, tempat terbitnya cahaya. Cahaya itu bukan hanya berupa ilmu pengetahuan, tetapi juga nilai, akhlak, dan keberpihakan kepada masyarakat kecil yang menjadi denyut utama kehidupan organisasi.

Meneguhkan Akar Sejarah dan Nilai Dasar Mathla’ul Anwar

Dalam lintasan sejarahnya, Mathla’ul Anwar tumbuh dari akar rumput, dari kampung ke kampung, dari ruang-ruang sederhana tempat ilmu ditanamkan dengan keikhlasan. Di balik lahirnya organisasi ini, berdiri sosok ulama visioner, KH Mas Abdurrahman, yang menjadi motor utama pendirian Mathla’ul Anwar. KH Mas Abdurrahman juga pembaharu yang melihat bahwa umat membutuhkan sistem pendidikan yang lebih terstruktur dan berorientasi pada pencerahan.

KH Mas Abdurrahman bersama para ulama dan tokoh masyarakat lainnya seperti KH Entol Mohamad Yasin dan KH Tb Mohamad Sholeh merintis Mathla’ul Anwar dengan semangat dakwah, sosial, dan pendidikan yang menyatu. Perannya sangat sentral, tidak hanya dalam menggagas berdirinya organisasi, tetapi juga dalam membangun kurikulum pendidikan, menanamkan nilai keislaman yang moderat, serta menggerakkan masyarakat untuk sadar akan pentingnya ilmu. Ia menjadikan pendidikan sebagai alat transformasi sosial, sehingga Mathla’ul Anwar tidak sekadar menjadi lembaga keagamaan, tetapi juga gerakan peradaban.

Dalam perjalanan panjang tersebut, Mathla’ul Anwar berpegang pada sembilan prinsip dasar yang menjadi ruh gerakannya. Prinsip pertama adalah berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah sebagai sumber utama ajaran, yang memastikan setiap langkah organisasi tetap berada dalam koridor nilai Islam yang otentik. Dari sana lahir prinsip kedua, yaitu bersatu dalam aqidah, yang menjadi fondasi persatuan umat agar tidak tercerai-berai oleh perbedaan yang mendasar.

Kesatuan itu kemudian diwujudkan dalam praktik melalui berjamaah dalam ibadah, menegaskan pentingnya kebersamaan dan kekuatan kolektif dalam kehidupan keagamaan. Namun, di tengah keragaman pandangan, Mathla’ul Anwar juga menjunjung tinggi toleransi dalam khilafiyah, sehingga perbedaan tidak menjadi sumber perpecahan, melainkan kekayaan yang dikelola dengan kedewasaan.

Di sisi lain, organisasi ini tetap bersikap tegas terhadap bid’ah yang menyimpang dari ajaran pokok, sebagai bentuk penjagaan terhadap kemurnian ajaran Islam. Sikap ini diimbangi dengan orientasi kepada maslahatil ummah, yakni menjadikan kemaslahatan umat sebagai tujuan utama setiap gerakan dan kebijakan.

Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, Mathla’ul Anwar dituntut untuk piawai dalam siyasah, mampu membaca situasi, mengambil peran strategis, serta berkontribusi secara bijak dalam ruang publik. Hal ini sejalan dengan prinsip untuk bersama membangun masyarakat dengan pemerintah, menegaskan bahwa perjuangan tidak dilakukan secara konfrontatif, melainkan kolaboratif demi kemajuan bersama.

Pada akhirnya, seluruh prinsip tersebut bermuara pada satu tujuan besar: berjuang di jalan Allah. Artinya, seluruh aktivitas Mathla’ul Anwar—baik dalam pendidikan, dakwah, maupun sosial—dilandasi oleh niat ibadah dan pengabdian yang tulus kepada Allah SWT.

Transformasi dan Konsolidasi Menuju Peran Strategis

Seiring berjalannya waktu, kiprah Mathla’ul Anwar tidak pernah terlepas dari dinamika masyarakat. Ia hadir dalam berbagai ruang kehidupan, mulai dari pendidikan, keagamaan, hingga sosial kemasyarakatan. Ratusan bahkan mungkin ribuan lembaga pendidikan yang tersebar di berbagai wilayah mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi menjadi bukti nyata komitmen tersebut. Di tengah perubahan zaman yang terus bergerak, organisasi ini tetap menjaga karakter dasarnya: dekat dengan umat, memahami kebutuhan mereka, dan menjadi bagian dari solusi.

Namun, usia yang panjang juga membawa konsekuensi: kebutuhan untuk terus berbenah. Tantangan zaman hari ini tidak lagi sederhana. Perkembangan teknologi, perubahan sosial dan demografi serta kompleksitas persoalan umat menuntut Mathla’ul Anwar untuk tidak sekadar bertahan, tetapi juga bertransformasi. Di sinilah makna penting dari pernyataan bahwa organisasi ini harus menjadi entitas yang diperhitungkan, bukan sekadar dihitung. Eksistensi saja tidak cukup; yang dibutuhkan adalah kualitas, pengaruh, dan kontribusi nyata yang dirasakan luas.

Momentum Harlah ke-113 Hijriyah ini seharusnya menjadi ruang refleksi yang jujur dan terbuka. Mathla’ul Anwar perlu melihat dirinya secara utuh—menilai kekuatan yang dimiliki sekaligus mengakui kelemahan yang masih ada. Kelemahan dalam praktek dan tata kelola (manajemen) organisasi, pendidikan, dakwah, dan aktivisme sosial kemasyarakatan. Evaluasi bukanlah tanda kemunduran, melainkan langkah awal menuju penguatan. Dari sana, pembenahan dapat dilakukan dengan lebih terarah, baik dalam tata kelola organisasi, penguatan sumber daya manusia, maupun penyusunan program yang lebih adaptif terhadap kebutuhan zaman.

Lebih dari itu, tantangan terbesar sering kali bukan datang dari luar, melainkan dari dalam. Karena itu, penyatuan potensi menjadi kunci utama. Mathla’ul Anwar harus mampu melampaui sekat-sekat kepentingan, merajut kembali semangat kolektif, dan menempatkan kepentingan organisasi serta umat di atas segalanya. Hanya dengan persatuan itulah energi besar yang dimiliki dapat bergerak secara maksimal, menghasilkan dampak yang lebih luas dan berkelanjutan.

Mengokohkan jati diri Mathla’ul Anwar berarti kembali pada nilai-nilai dasar yang telah diwariskan para pendiri, termasuk sembilan prinsip dasar yang menjadi pedoman dalam setiap langkah. Nilai keikhlasan, keilmuan, persatuan, dan pengabdian harus terus dihidupkan dalam praktik nyata, bukan hanya menjadi slogan.

Sementara itu, meluaskan peran berarti keberanian untuk menjawab tantangan baru dengan cara-cara yang relevan, inovatif, dan kolaboratif. Dakwah tidak lagi cukup dilakukan secara konvensional, tetapi harus mampu hadir di ruang digital, menyentuh dan menginspirasi generasi baru (milenial, gen z, gen alpha, dst) karena merekalah masa depan Indonesia. Pendidikan tidak cukup hanya mentransfer ilmu, tetapi juga membentuk karakter dan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan masa depan.

Pada akhirnya, Harlah ini bukan sekadar seremoni, melainkan panggilan untuk memperbarui komitmen. Dari Menes yang sederhana, cahaya Mathla’ul Anwar telah menjangkau banyak penjuru. Tugas generasi hari ini adalah menjaga agar cahaya itu tidak redup, melainkan semakin terang, menerangi jalan umat di tengah zaman yang terus berubah. Dengan jati diri yang kokoh dan peran yang terus diperluas, Mathla’ul Anwar memiliki peluang besar untuk tetap menjadi pelopor pendidikan dan dakwah sosial, tidak hanya di tingkat lokal dan nasional, tetapi juga dalam percaturan global.