JAKARTA — Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Hidayat Nur Wahid (HNW) mendorong pengakuan lebih luas terhadap jasa tokoh nasional Mohammad Natsir dalam sejarah bangsa. Ia mengusulkan agar Natsir ditetapkan sebagai Bapak Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), sekaligus menetapkan 3 April sebagai Hari NKRI.
Usulan tersebut disampaikan Hidayat bertepatan dengan momentum historis 3 April, yang merujuk pada peristiwa tahun 1950 saat Mohammad Natsir mengajukan Mosi Integral di parlemen. Mosi tersebut menjadi tonggak penting dalam mengembalikan bentuk negara dari Republik Indonesia Serikat menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia.
“Peran M. Natsir dalam menyatukan kembali Indonesia adalah jasa besar yang layak mendapat penghargaan negara,” ujar Hidayat dalam pernyataannya disampaikan kepada wartawan, Jakarta, Jumat (3/4/2026).
Mosi Integral Dinilai Tonggak Persatuan Bangsa
Hidayat menilai langkah politik yang diambil Natsir saat itu bukan hanya strategi parlementer, tetapi juga bentuk komitmen kuat terhadap persatuan nasional. Melalui mosi tersebut, Indonesia berhasil keluar dari sistem federal yang dinilai sebagai warisan politik kolonial.
Menurutnya, keberhasilan tersebut menjadikan Natsir sebagai figur kunci dalam menjaga keutuhan bangsa di masa awal kemerdekaan.
Dorongan Penetapan Hari NKRI
Selain pengakuan terhadap tokoh, Hidayat juga menyoroti belum adanya hari nasional yang secara khusus memperingati NKRI, meskipun konsep tersebut selalu digaungkan sebagai prinsip final dalam kehidupan berbangsa.
Ia membandingkan dengan berbagai hari nasional lain yang telah lebih dahulu ditetapkan, seperti Hari Pancasila dan Hari Konstitusi.
“NKRI selalu disebut sebagai harga mati, namun belum memiliki hari peringatan resmi,” tegasnya.
Momentum Dinilai Tepat Direalisasikan
Hidayat menyebut bahwa usulan ini bukan hal baru, melainkan sudah lama disuarakan berbagai kalangan. Namun, ia menilai saat ini merupakan momentum yang tepat untuk merealisasikannya.
Ia juga berharap pemerintah, khususnya Yusril Ihza Mahendra, dapat mendorong proses tersebut secara lebih konkret.
Pengingat Sejarah Bangsa
Menutup pernyataannya, Hidayat mengajak seluruh elemen bangsa untuk tidak melupakan sejarah perjuangan para pendiri bangsa, termasuk peran strategis Mohammad Natsir.
Seruan tersebut disampaikan dengan semangat “Jas Merah” — jangan sekali-kali melupakan sejarah — sebagai pengingat pentingnya menjaga persatuan dan keutuhan NKRI.
Usulan ini diharapkan dapat memperkuat kesadaran sejarah sekaligus mempertegas penghargaan negara terhadap tokoh yang berjasa dalam menjaga keutuhan Indonesia.





