JAKARTA – Anggota Komisi III DPR RI Dapil Bali, I Nyoman Parta, kembali menyoroti pentingnya menjaga tanah pertanian Bali sebagai sumber kehidupan sekaligus pusat lahirnya kebudayaan. Hal itu disampaikannya melalui akun Instagram pribadinya, Senin (6/4/2026), saat mengulas tradisi Nuuh yang berlangsung di Desa Sebatu, Gianyar.
Nuuh dan Filosofi Relasi Manusia-Alam
Dalam unggahannya, Parta menggambarkan tanah Bali bukan sekadar aset agraria, melainkan ruang sakral tempat manusia Bali membangun hubungan spiritual dengan alam dan Tuhan. Tradisi Nuuh atau Mejarag Jaje Lempeng disebutnya sebagai refleksi nyata dari filosofi tersebut.
Ritual yang digelar saat padi mulai “hamil” ini menjadi wujud syukur masyarakat subak, sekaligus permohonan agar proses panen berjalan baik. Ia juga menyinggung bahwa perubahan cuaca yang kerap menyertai prosesi dipercaya sebagai bagian dari keharmonisan alam.
“Dari tanah, manusia Bali mengenal Tuhannya, berkesenian, hingga memberi penghormatan pada semesta,” tulis Parta.
Peran Sentral Tukang Adur dalam Ritual
Parta juga menyoroti keberadaan “tukang adur” sebagai figur penting dalam tradisi tersebut. Sosok ini berperan memimpin jalannya ritual sekaligus menjaga kesakralan persembahan.
Menurutnya, keberadaan tokoh adat seperti tukang adur menunjukkan bahwa sistem pertanian Bali tidak hanya berbasis teknis, tetapi juga spiritual dan sosial. Jaje lempeng yang menjadi persembahan utama pun memiliki makna simbolik sebagai ungkapan syukur atas berkah alam.
Regenerasi Budaya Lewat Keterlibatan Anak
Keterlibatan anak-anak dalam tradisi Nuuh menjadi perhatian tersendiri bagi Parta. Ia melihat antusiasme mereka sebagai tanda bahwa nilai-nilai budaya masih hidup dan ditransmisikan secara langsung dari generasi ke generasi.
Anak-anak, termasuk yang belum menjalani prosesi mepandes, dilibatkan sebagai simbol keberlanjutan. “Ini bukan sekadar ritual, tapi pendidikan budaya yang hidup,” ujarnya.
Alarm Alih Fungsi Lahan
Di akhir pernyataannya, Parta mengingatkan ancaman nyata terhadap tanah pertanian Bali, terutama akibat alih fungsi lahan. Ia menegaskan bahwa menjaga sawah berarti menjaga jati diri Bali itu sendiri.
“Tanah pertanian bukan sekadar ruang produksi, tapi identitas. Jika hilang, maka sebagian dari Bali juga ikut hilang,” tegasnya.
Melalui refleksi atas tradisi Nuuh, Parta mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mempertahankan sistem subak dan nilai-nilai kearifan lokal di tengah tekanan modernisasi.




