JAKARTA — Anggota DPR RI menyoroti pentingnya sinergi antara Gerakan Orang Tua Cegah Stunting (Genting) dan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai strategi efektif untuk menurunkan angka stunting di Indonesia. Menurut legislator, kedua program tersebut perlu diperkuat agar tepat sasaran dan memberi dampak langsung bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan anak-anak balita di keluarga berisiko stunting.
Program Genting yang digagas oleh Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN telah menjadi gerakan sosial luas, melibatkan unsur pemerintah daerah, komunitas, BUMN/BUMD, akademisi, dan masyarakat sebagai orang tua asuh yang secara langsung membantu keluarga sasaran melalui berbagai intervensi, termasuk nutrisi, akses air bersih, edukasi kesehatan, serta pendampingan keluarga. Data terbaru menunjukkan bahwa program ini telah mencapai lebih dari target awal, dengan pelibatan ribuan mitra di berbagai jenjang daerah.
Seiring dengan itu, Program MBG, yang menjadi salah satu penggerak pemerintah untuk memperbaiki konsumsi gizi masyarakat, terutama pada balita dan ibu hamil, dianggap vital karena meningkatkan asupan makanan bergizi bagi kelompok rentan. Para pakar gizi menyatakan bahwa MBG memiliki potensi menurunkan angka stunting bila diimplementasikan secara profesional, dengan menu gizi seimbang dan pemantauan yang baik.
Pemerintah menargetkan bahwa kedua program ini, bila berjalan beriringan dengan dukungan sinergi lintas sektor — termasuk posyandu, puskesmas, serta edukasi keluarga — mampu mendorong penurunan prevalensi stunting menjadi sekitar 14 persen pada 2029, langkah yang menjadi bagian dari komitmen nasional meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Meskipun demikian, sejumlah pihak juga menyoroti perlunya peningkatan kualitas implementasi program MBG melalui keterlibatan ahli gizi, transparansi distribusi makanan, serta pengawasan standar kesehatan untuk memastikan makanan yang diberikan benar-benar aman, bergizi, dan bermanfaat bagi pertumbuhan anak.





