banner 728x90

Antara Bahagia dan Duka, Memori Lama Kembali Menyapa

Img 20260113 093351
banner 120x600

Kini rambutku telah memutih, langkahku tak lagi setegap dahulu. Namun anehnya, masa lalu justru semakin jelas melekat di ingatanku, seolah waktu memilih untuk menyimpannya paling rapi di sudut hati.
Aku lahir dari dua dunia yang berbeda. Keluarga ibuku adalah keluarga berada, sementara keluarga bapakku hidup dalam kesederhanaan. Kata orang, hidupku seperti kisah drama Korea—penuh perbedaan, cinta, kehilangan, dan air mata. Menurut cerita kakek, bapakku adalah seorang pria rajin dan bertanggung jawab. Itulah yang membuat kakek menyukainya, hingga akhirnya bapakku dijodohkan dengan putri pertamanya, ibuku. Mereka menikah, dan dari cinta itulah aku dilahirkan ke dunia.
Namun kebahagiaan itu tak berumur panjang. Saat usiaku belum genap dua tahun, ibuku tercinta dipanggil Tuhan. Dunia kecilku runtuh sebelum aku sempat mengerti arti kehilangan. Kepergian ibu membuatku menjadi rebutan dalam hak asuh, hingga akhirnya aku diasuh oleh nenek—ibu dari bapakku. Di pelukannya yang renta namun hangat, aku bertahan dan tumbuh.
Tak sampai setahun setelah ibu tiada, bapakku menikah lagi dengan seorang gadis. Sejak saat itu, luka demi luka mulai terukir dalam hidupku. Setelah menikah, bapakku tak menginginkanku tinggal bersamanya. Ibu tiriku merasa malu memiliki suami seorang duda dengan anak. Dari situlah kesedihan mendalam bermula—saat aku merasa ditolak oleh orang tua yang seharusnya menjadi tempatku pulang.
Namun Tuhan tak pernah benar-benar meninggalkanku. Nenekku merawatku dengan cinta yang tak pernah setengah. Bersamanya aku tumbuh, belajar tentang sabar, tentang ketegaran, dan tentang cinta yang tak bersyarat. Hingga aku dewasa, hingga aku menikah, nenek tetap menjadi rumah bagiku.
Saat dewasa, Tuhan kembali menghadiahkanku kebahagiaan. Aku menemukan seorang perempuan yang mencintaiku dengan tulus, yang menerimaku dengan seluruh luka masa laluku. Dari pernikahan kami, aku dikaruniai dua anak—laki-laki dan perempuan—yang menjadi cahaya dalam hidupku. Untuk sesaat, aku merasakan utuhnya arti keluarga, hangatnya kebersamaan, dan damainya cinta.
Namun kebahagiaan itu kembali diuji. Istri yang sangat kucintai harus pergi memenuhi panggilan Ilahi. Lima tahun telah berlalu sejak kepergiannya, namun doa untuknya tak pernah putus dari bibirku. Aku berharap almarhumah istriku damai di sisi-Nya, mendapatkan kebahagiaan yang abadi.
Aku sering mengingatnya, bukan karena aku tak ikhlas menerima takdir ini. Aku sadar, segala yang Tuhan berikan adalah yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya. Mengenangnya adalah caraku mensyukuri bahwa aku pernah dicintai sedalam itu, dan pernah mencintai setulus itu.
Kini, di usia senjaku, aku hidup dengan kenangan—bukan untuk meratapi, melainkan untuk mengingat bahwa hidupku, meski penuh kehilangan, juga dipenuhi cinta. Dan cinta itulah yang membuatku tetap berdiri hingga hari ini.

Cerita di atas hanyalah karya fiksi. Apabila terdapat kesamaan nama, tokoh, tempat, atau peristiwa dengan kejadian nyata, hal tersebut tidak disengaja dan semata-mata merupakan kebetulan.

Penulis: Sawijan wmcEditor: Sawijan wmc