Anggota Komisi IX DPR RI dari Fraksi PKS, Netty Prasetiyani Aher, kembali menyoroti tantangan kesehatan mental di Indonesia yang sering dianggap sebagai fenomena gunung es — kondisi di mana kasus yang terlihat di permukaan jauh lebih sedikit daripada jumlah sesungguhnya yang belum terdeteksi atau dilaporkan oleh masyarakat.
Menurut Netty, estimasi dari Kementerian Kesehatan bahwa sekitar 28 juta warga Indonesia berpotensi mengalami masalah kesehatan jiwa mencerminkan besarnya tantangan yang harus dihadapi secara bersama-sama oleh pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat luas.
“Masih banyak masyarakat yang memandang gangguan kesehatan mental sebagai aib atau kelemahan pribadi. Padahal kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik dan gangguan jiwa dapat dialami siapa saja,” ujar Netty dalam pernyataannya di Jakarta, Jumat (23/1/2026).
Netty menilai rendahnya angka deteksi gangguan mental dalam data skrining kesehatan menjadi indikator kuat bahwa kesadaran dan keberanian masyarakat untuk mencari pertolongan masih rendah. Ia mendorong penguatan layanan kesehatan jiwa di fasilitas kesehatan seperti puskesmas, serta peningkatan kapasitas tenaga kesehatan dalam memberikan layanan konseling dan pendampingan psikososial.
Lebih jauh, Netty juga menekankan pentingnya edukasi publik dan pengurangan stigma agar masyarakat tidak ragu mencari bantuan profesional ketika mengalami tekanan mental, dari tekanan hidup sehari-hari, pekerjaan, hingga tantangan yang dihadapi anak-anak dan remaja.
Pakar kesehatan mental sebelumnya juga mencatat bahwa persoalan seperti kecemasan akibat tekanan media sosial, cyberbullying, dan dinamika kehidupan modern telah memperburuk kondisi jiwa di kelompok anak muda dan dewasa muda, sehingga perlu pendekatan kesehatan yang komprehensif.





