banner 728x90
Daerah  

Membangun Fondasi Ekosistem Hidrogen Hijau Indonesia untuk Mendorong Daya Saing dan Transisi Energi

Img 20260312 Wa0175
banner 120x600

 

Jakarta ,WartaMerdeka.com -Indonesia memiliki peluang besar untuk mengembangkan ekosistem hidrogen hijau sebagai bagian penting dari strategi transisi energi menuju masa depan yang lebih bersih dan berkelanjutan. Studi mengenai ekosistem hidrogen hijau menunjukkan bahwa hidrogen dapat menjadi solusi strategis untuk mendukung dekarbonisasi pada sektor-sektor yang sulit dielektrifikasi secara langsung atau dikenal sebagai sektor hard-to-abate, seperti industri berat, transportasi jarak jauh, serta proses industri yang membutuhkan suhu sangat tinggi.
Secara global, sektor-sektor tersebut menyumbang sekitar 20 persen emisi karbon dioksida (CO₂). Dengan usia aset industri yang dapat mencapai 30 hingga 70 tahun, terdapat risiko besar terjadinya ketergantungan jangka panjang terhadap bahan bakar fosil. Oleh karena itu, penggunaan hidrogen rendah emisi dipandang sebagai salah satu alternatif penting yang mampu menurunkan emisi produksi hingga 60–95 persen serta mendukung pencapaian target net-zero emission di berbagai negara.
Di antara berbagai metode produksi hidrogen, hidrogen hijau menjadi pilihan paling berkelanjutan karena dihasilkan melalui proses elektrolisis yang menggunakan energi terbarukan. Proses ini menghasilkan emisi yang sangat rendah dibandingkan dengan hidrogen abu-abu yang saat ini masih mendominasi produksi global dan menghasilkan emisi karbon yang tinggi. Sementara itu, alternatif lain seperti hidrogen biru masih bergantung pada teknologi penangkapan karbon dan bahan bakar fosil, sedangkan hidrogen berbasis nuklir menghadapi tantangan teknologi dan regulasi yang kompleks.
Indonesia memiliki sejumlah keunggulan komparatif untuk mengembangkan hidrogen hijau. Potensi energi terbarukan nasional mencapai sekitar 3.687 gigawatt yang berasal dari sumber energi surya, hidro, panas bumi, dan angin, meskipun pemanfaatannya saat ini masih di bawah 0,5 persen. Selain itu, Indonesia juga memiliki infrastruktur industri amonia dan pupuk yang sudah berkembang serta posisi geografis yang strategis di dekat pusat permintaan energi di kawasan Asia. Pemerintah juga telah menetapkan target menuju Net Zero Emission pada tahun 2060 yang memberikan arah kebijakan yang jelas bagi pengembangan energi bersih, termasuk hidrogen hijau.
Potensi pemanfaatan hidrogen di Indonesia diperkirakan akan meningkat signifikan seiring dengan transformasi sistem energi nasional. Saat ini, permintaan hidrogen nasional sekitar 1,75 juta ton per tahun, yang sebagian besar digunakan untuk industri pupuk dan amonia. Melalui roadmap nasional, permintaan tersebut diproyeksikan meningkat hingga 11,8 juta ton pada tahun 2060. Bahkan dalam skenario optimistis, potensi pemanfaatan hidrogen dapat mencapai hingga 38 juta ton per tahun jika transformasi energi berjalan secara menyeluruh.
Untuk mendukung pengembangan tersebut, pendekatan pembangunan hydrogen hub menjadi salah satu strategi yang diusulkan. Konsep ini mengintegrasikan fasilitas produksi, penyimpanan, transportasi, serta pemanfaatan hidrogen dalam satu kawasan geografis sehingga mampu meningkatkan efisiensi, memperkuat permintaan, dan mengurangi risiko investasi bagi para pemangku kepentingan.

 

 

Img 20260312 Wa0176
Beberapa wilayah di Indonesia dinilai memiliki potensi besar untuk menjadi lokasi pengembangan hydrogen hub. Di antaranya adalah Kalimantan Timur yang memiliki klaster industri besar serta kedekatan dengan kawasan Ibu Kota Nusantara, wilayah Sumatera–Riau yang memiliki potensi energi surya kompetitif dan akses ekspor ke Singapura, serta Jawa Timur yang dikenal sebagai pusat industri berat, petrokimia, dan semen dengan kebutuhan energi yang besar.
Namun demikian, pengembangan ekosistem hidrogen hijau di Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan, termasuk keterbatasan pemahaman awal mengenai potensi hidrogen serta kompleksitas koordinasi antara berbagai pemangku kepentingan. Melalui dukungan program transisi energi dan kolaborasi berbagai pihak, upaya penguatan kebijakan, riset, serta dialog antar pemangku kepentingan terus dilakukan.
Chief Executive Officer Fabby Tumiwa dari Institute for Essential Services Reform menekankan bahwa percepatan transisi energi di Indonesia memerlukan sejumlah langkah strategis, antara lain melanjutkan forum dialog kebijakan transisi energi, mengimplementasikan hasil kajian ke dalam regulasi dan program konkret, memperkuat Komunitas Hidrogen Hijau Indonesia sebagai wadah kolaborasi nasional, mendorong riset teknologi energi bersih, serta mengaitkan agenda transisi energi dengan strategi pertumbuhan ekonomi nasional.
Dengan memanfaatkan potensi energi terbarukan yang besar dan memperkuat kolaborasi lintas sektor, pengembangan hidrogen hijau diharapkan dapat menjadi fondasi penting bagi Indonesia dalam membangun ekonomi rendah karbon sekaligus meningkatkan daya saing energi di tingkat global.

 

red/wim