banner 728x90

Rumah Aspirasi I Nyoman Parta Jadi Laboratorium Lingkungan, Aktivis Dorong Revolusi Pengelolaan Sampah dari Rumah

Screenshot 20260324 080238 Gallery
banner 120x600

DENPASAR – Rumah Aspirasi milik Anggota DPR RI Dapil Bali dari Fraksi PDI Perjuangan I Nyoman Parta kembali menjadi ruang kolaborasi gerakan lingkungan. Kali ini, Parta menerima kunjungan Nila Ayu, Nevy, serta Ni Luh Getas Bali bersama tim dari Yayasan Luh Getas Bali untuk membahas solusi konkret persoalan sampah di Bali.

Pertemuan tersebut menyoroti pentingnya membangun kesadaran kolektif masyarakat dalam mengelola sampah sejak dari sumbernya. Tidak hanya berdiskusi, para peserta juga melakukan praktik langsung pengolahan sampah organik.

Parta menegaskan bahwa persoalan sampah tidak bisa diselesaikan hanya dengan kebijakan atau teknologi, melainkan harus dimulai dari perubahan perilaku masyarakat.

“Kalau kita bicara sampah, itu bicara manusia. Selama manusianya tidak berubah, masalah ini akan terus ada,” kata Parta.

Ia menekankan bahwa konsep Bali bersih harus dibangun melalui sinergi tiga pilar utama, yakni masyarakat, pemerintah, dan sistem pengolahan. Menurutnya, masyarakat memiliki peran paling mendasar, yakni memilah sampah dari rumah tangga.

“Warga harus mulai dari memilah. Pemerintah memfasilitasi dan memastikan pengolahan berjalan. Kalau masih ada yang tidak mau memilah, itu berarti ‘meboyo’, tidak peduli,” ujarnya tegas.

Dalam sesi praktik, Nila Ayu yang dikenal melalui gerakan edukasi lingkungan bersama Ni Luh Getas Bali memperlihatkan cara mengolah sampah organik menjadi eco-enzyme. Cairan ini dihasilkan dari fermentasi kulit buah dengan gula dan air, yang kemudian dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan rumah tangga.

Selain eco-enzyme, mereka juga memperkenalkan pemanfaatan limbah sisa fermentasi yang diolah menjadi produk boreh atau lulur khas Bali. Produk tersebut tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga memiliki potensi ekonomi bagi masyarakat.

Menurut Parta, pendekatan sederhana namun aplikatif seperti ini sangat penting untuk mempercepat perubahan di tingkat akar rumput.

“Kalau masyarakat melihat langsung dan bisa mempraktikkan, itu lebih efektif daripada sekadar imbauan,” katanya.

Ia berharap gerakan yang digagas Yayasan Luh Getas Bali dapat diperluas dan menjadi inspirasi bagi desa-desa lain di Bali. Dengan keterlibatan aktif masyarakat, pengelolaan sampah diharapkan tidak lagi menjadi beban, melainkan peluang.

“Bali bersih itu bukan slogan. Itu kerja bersama yang harus dimulai dari rumah masing-masing,” tutup Parta.