JAKARTA – Anggota DPR RI Siti Asiyah menyampaikan ucapan Selamat Memperingati Hari Tani Nasional 2026 kepada seluruh petani di seluruh penjuru Tanah Air.
Menurut Siti, momentum 24 September ini dinilai menjadi pengingat sejarah perjuangan agraria sekaligus komitmen kebangsaan untuk menempatkan petani sebagai subjek utama pembangunan.
Peringatan tahun ini mengusung tema nasional “Petani Kuat, Pangan Berdaulat, Indonesia Maju”, dengan sub-tema “Hasil Pertanian Melimpah, Petani Sejahtera” dan semangat “Swasembada untuk Indonesia Raya”. Tema tersebut menegaskan bahwa kekuatan pangan nasional tidak bisa dilepaskan dari kekuatan petani itu sendiri.
Dalam pernyataannya, Siti Asiyah memberikan penghormatan tinggi atas kerja keras petani yang tak pernah berhenti di tengah berbagai tantangan. Menurutnya, peran petani jauh melampaui aktivitas produksi di sawah dan ladang.
“Petani merupakan Pahlawan pangan yang sesungguhnya karena petani menjaga Ketahanan dan Kedaulatan Pangan Nasional,” ujar Siti Asiyah dalam kutipan resminya memperingati Hari Tani 2026 seperti dikutip di Instagram pribadinya.
Ia menjelaskan bahwa kondisi petani kita saat ini berada di persimpangan yang krusial. Di satu sisi, Indonesia berhasil menjaga produksi di beberapa komoditas strategis, namun di sisi lain petani dihadapkan pada persoalan struktural yang belum tuntas. Alih fungsi lahan pertanian produktif menjadi perumahan dan industri masih terus terjadi, terutama di Pulau Jawa.
Persoalan kedua adalah regenerasi petani. Data menunjukkan mayoritas petani kita berusia di atas 45 tahun, sementara minat generasi muda untuk bertani masih rendah akibat citra pertanian yang belum menjanjikan kesejahteraan. Biaya produksi yang tinggi, harga pupuk yang fluktuatif, dan rantai tata niaga yang panjang membuat nilai tukar petani belum optimal.
Siti Asiyah juga menyoroti persoalan akses kepastian lahan. Konflik agraria dan ketimpangan penguasaan tanah masih menjadi pekerjaan rumah reforma agraria. Banyak petani penggarap yang bekerja di atas tanah bukan miliknya tanpa kepastian hukum, sehingga sulit mengakses permodalan dan program pemerintah.
Tantangan perubahan iklim juga semakin nyata dirasakan petani. Pola musim yang tidak menentu, banjir dan kekeringan yang silih berganti, serta serangan hama baru menuntut adanya dukungan teknologi pertanian adaptif dan asuransi pertanian yang benar-benar menjangkau petani kecil.
Untuk itu, Siti Asiyah mendorong DPR RI bersama pemerintah untuk memperkuat tiga agenda prioritas. Pertama, percepatan realisasi reforma agraria sejati melalui distribusi lahan dan legalisasi aset petani. Kedua, jaminan harga dan serapan hasil panen melalui peran Bulog dan BUMN pangan yang lebih berpihak, agar petani tidak menjadi korban permainan harga tengkulak saat panen raya.
Ketiga, transformasi pertanian melalui mekanisasi yang tepat guna, akses pupuk bersubsidi yang transparan berbasis data, serta pembukaan akses kredit usaha rakyat pertanian dengan bunga ringan bagi petani milenial. Negara harus hadir dari hulu ke hilir.
Di akhir pernyataannya, Siti Asiyah mengajak seluruh pihak untuk tidak hanya menjadikan Hari Tani sebagai seremoni tahunan, tetapi sebagai gerakan politik pangan.
“Jika kita ingin Indonesia benar-benar maju, maka sejahterakan dulu petaninya. Petani kuat, negara pasti berdaulat,” tutupnya.








