banner 728x90
Opini  

Makayaklo dan Masa Depan Pendidikan

Irfandi
Oleh: Irfandi R. Hi. Mustafa (Akademisi Unutara)
banner 120x600

Pendidikan tidak hanya perkara di kelas, buku pelajaran, nilai ujian, atau seberapa banyak pengetahuan yang mampu dihafalkan seorang peserta didik. Pendidikan pada hakikatnya adalah proses membentuk manusia agar mampu hidup bersama, menghargai sesama, bertanggung jawab, dan memahami lingkungan sosial serta budayanya.

Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, pertanyaan penting kemudian muncul pendidikan seperti apa yang ingin kita wariskan kepada generasi mendatang? Pertanyaan ini menjadi semakin relevan bagi daerah yang memiliki kekayaan budaya dan kearifan lokal, termasuk Maluku Utara. Salah satu nilai budaya yang layak mendapat ruang lebih besar dalam pendidikan adalah Makayaklo.

Makayaklo bukan saja istilah budaya. Dalam kehidupan masyarakat Makian, Makayaklo dikenal sebagai tradisi gotong royong dan tolong-menolong yang mengandung nilai kebersamaan, solidaritas, tanggung jawab, dan kepedulian sosial. Sejumlah kajian bahkan menunjukkan bahwa nilai Makayaklo dapat menjadi rujukan dalam pendidikan karakter dan penguatan integrasi sosial.

Sekolah yang Tidak Kehilangan Akar

Kemajuan teknologi telah mengubah wajah pendidikan. Anak-anak hari ini tumbuh dalam lingkungan digital yang memungkinkan mereka memperoleh informasi dalam hitungan detik. Dunia menjadi semakin terbuka. Pengetahuan tidak lagi terbatas pada apa yang tersedia di perpustakaan sekolah.
Namun, kemajuan tersebut menghadirkan persoalan lain.

Anak-anak mungkin semakin terhubung dengan dunia, tetapi apakah mereka semakin mengenal masyarakat di sekitarnya? Mereka dapat mengetahui berbagai budaya dari belahan dunia melalui telepon pintar, tetapi apakah mereka masih memahami nilai-nilai budaya yang diwariskan oleh orang tua dan leluhurnya?
Di sinilah pendidikan berbasis kearifan lokal menemukan relevansinya.

Sekolah tidak boleh menjadi ruang yang membuat peserta didik tercerabut dari akar sosial dan budayanya. Sebaliknya, sekolah harus menjadi tempat di mana pengetahuan modern dan kebijaksanaan lokal dapat bertemu.
Makayaklo dapat menjadi salah satu jembatan tersebut.
Pendidikan berbasis Makayaklo bukan berarti sekolah harus kembali ke masa lalu. Bukan pula berarti teknologi dan ilmu pengetahuan modern harus ditinggalkan. Justru sebaliknya, nilai lokal dapat menjadi fondasi moral agar generasi muda mampu menggunakan pengetahuan dan teknologi secara bertanggung jawab.

Gotong Royong Menjadi Pendidikan Karakter

Salah satu persoalan pendidikan yang sering dibicarakan adalah bagaimana membentuk karakter peserta didik. Kita dapat membuat berbagai program karakter. Kita dapat menyusun aturan sekolah, membuat slogan tentang disiplin, memasang poster tentang gotong royong, dan menyelenggarakan berbagai kegiatan sosial. Namun, karakter tidak cukup diajarkan melalui kata-kata. Karakter harus dialami, dibiasakan, dan dipraktikkan.

Di sinilah Makayaklo memiliki kekuatan.
Nilai gotong royong mengajarkan bahwa manusia tidak hidup seorang diri. Keberhasilan seseorang juga memiliki hubungan dengan keberadaan orang lain. Dalam semangat Makayaklo, pekerjaan yang berat dapat menjadi lebih ringan ketika dilakukan secara bersama-sama.

Jika nilai tersebut diterapkan dalam kehidupan sekolah, peserta didik dapat belajar bahwa keberhasilan bukan hanya tentang menjadi yang paling pintar atau memperoleh nilai tertinggi. Keberhasilan juga berkaitan dengan kemampuan bekerja sama, membantu teman, menghargai perbedaan, dan bertanggung jawab terhadap lingkungan bersama. Makayaklo dapat diterjemahkan menjadi praktik pendidikan karakter yang konkret.

Kerja bakti sekolah, proyek kelompok, kegiatan sosial, pengambilan keputusan melalui musyawarah, kepedulian terhadap teman, hingga keterlibatan masyarakat dalam kegiatan pendidikan dapat menjadi ruang aktualisasi nilai tersebut.

Kajian terbaru penulis mengenai manajemen sekolah berbasis Makayaklo di MTs Swasta Muhammadiyah Matsa, Halmahera Selatan, menunjukkan bahwa nilai Makayaklo dapat diintegrasikan ke dalam perencanaan partisipatif, pengorganisasian berbasis solidaritas, kegiatan bersama, dan pengawasan yang bertumpu pada kepercayaan sosial.
Artinya, Makayaklo tidak harus berhenti sebagai simbol budaya. Ia dapat diterjemahkan menjadi cara mengelola pendidikan.

Guru sebagai Penghubung Masa Lalu dan Masa Depan

Gagasan pendidikan berbasis Makayaklo, guru memiliki posisi yang sangat penting. Guru bukan hanya penyampai materi pelajaran. Guru juga dapat menjadi penghubung antara pengetahuan modern dengan pengalaman hidup masyarakat.

Guru sejarah dapat mengajak peserta didik memahami sejarah Makian dan perubahan sosial masyarakatnya. Guru bahasa dapat mengembangkan pembelajaran melalui cerita, ungkapan, atau narasi lokal. Guru IPS dapat menjadikan praktik gotong royong sebagai bahan pembelajaran tentang struktur sosial. Guru Pendidikan Pancasila dapat menghubungkan nilai Makayaklo dengan praktik kebersamaan dan musyawarah. Bahkan mata pelajaran sains pun dapat dikaitkan dengan kehidupan masyarakat dan lingkungan lokal.
Dengan pendekatan seperti ini, kearifan lokal tidak ditempatkan sebagai pelajaran tambahan yang berdiri sendiri. Ia menjadi konteks yang memperkaya proses pembelajaran.

Jangan Sampai Budaya Hanya Menjadi Cerita

Kita sering bangga berbicara tentang budaya, tetapi kurang serius menjadikannya bagian dari kehidupan generasi muda. Budaya akhirnya hanya muncul ketika ada festival, pakaian adat, pertunjukan seni, atau seremoni tertentu.
Padahal, budaya yang hidup bukan hanya budaya yang dipertontonkan. Budaya adalah nilai yang dipraktikkan.

Jika Makayaklo hendak dibawa ke sekolah, jangan berhenti pada pemasangan tulisan “Makayaklo” di dinding sekolah atau menjadikannya tema kegiatan tahunan.
Pertanyaan yang lebih penting adalah, apakah semangat Makayaklo benar-benar hidup dalam hubungan antara guru dan siswa, antarsiswa, sekolah dan orang tua, serta sekolah dan masyarakat? Jika jawabannya iya, maka Makayaklo telah menjadi budaya pendidikan.
Jika tidak, ia hanya menjadi slogan.
Menuju Pendidikan yang Berakar dan Terbuka

Masa depan pendidikan Maluku Utara tidak harus memilih antara modernitas dan tradisi.
Keduanya dapat berjalan bersama. Anak-anak Maluku Utara harus mampu menguasai teknologi, berpikir kritis, memahami ilmu pengetahuan, dan berkompetisi di tingkat nasional bahkan global. Tetapi pada saat yang sama, mereka juga perlu memahami dari mana mereka berasal dan nilai apa yang seharusnya menjadi pegangan ketika berhadapan dengan perubahan zaman.

Makayaklo dapat menjadi salah satu fondasi moral tersebut. Pendidikan yang berakar pada budaya bukan pendidikan yang menutup diri dari dunia. Sebaliknya, pendidikan semacam itu justru memungkinkan peserta didik memasuki dunia yang lebih luas dengan identitas yang lebih kuat. Sebab, globalisasi tidak semestinya membuat semua manusia menjadi seragam.
Kita membutuhkan generasi yang mampu menjadi warga dunia tanpa kehilangan identitas sebagai bagian dari masyarakatnya sendiri.

Saatnya Makayaklo Menjadi Gerakan Pendidikan

Sudah saatnya Makayaklo tidak hanya dibicarakan sebagai warisan budaya, tetapi dikembangkan sebagai sumber nilai dalam pendidikan. Pemerintah daerah, sekolah, perguruan tinggi, tokoh adat, orang tua, dan masyarakat dapat membangun kerja bersama untuk mengembangkan model pendidikan yang kontekstual dengan kehidupan masyarakat Maluku Utara.

Kurikulum muatan lokal dapat menjadi salah satu ruangnya. Program penguatan karakter dapat menjadi ruang lainnya. Manajemen sekolah, kegiatan ekstrakurikuler, pembelajaran berbasis proyek, hingga keterlibatan masyarakat juga dapat menjadi bagian dari gerakan tersebut. Yang diperlukan bukan sekadar menambahkan materi tentang Makayaklo ke dalam buku pelajaran. Yang lebih penting adalah menghidupkan nilai Makayaklo dalam budaya sekolah.

Pendidikan yang baik bukan hanya menghasilkan anak yang mengetahui banyak hal, tetapi juga manusia yang tahu bagaimana menggunakan pengetahuannya untuk kehidupan bersama. Masa depan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh seberapa canggih teknologi yang digunakan sekolah. Ia juga ditentukan oleh nilai apa yang ditanamkan kepada manusia yang menggunakan teknologi tersebut.

Di tengah dunia yang semakin individualistis, kita perlu kembali mendengar suara kearifan lama bahwa manusia akan menjadi kuat ketika mampu berdiri bersama. Makayaklo mengingatkan kita bahwa pendidikan bukan hanya tentang menjadi pintar, tetapi tentang belajar menjadi manusia yang berguna bagi manusia lainnya. Jika nilai itu berhasil hidup di sekolah, maka Makayaklo bukan sekadar warisan masa lalu. Ia dapat menjadi bekal untuk menjemput masa depan.***

Penulis: Irfandi R. Hi. MustafaEditor: Harun Gafur