banner 728x90

Survey: 33% Masyarakat DKI Jakarta Buta Huruf Al-Qur’an, HNW Luncurkan Program Pemberantasan Buta Huruf Al-Qur’an

Anggota Komisi Viii Dpr Ri Hidayat Nur Wahid Dalam Rapat Kerja Komisi Viii Dpr Ri Bersama Menteri Ha20260415111650 768x550
banner 120x600

JAKARTA — Wakil Ketua MPR RI sekaligus Anggota Komisi VIII DPR RI, Hidayat Nur Wahid, meluncurkan Program Pemberantasan Buta Huruf Al-Qur’an setelah survei terbaru di DKI Jakarta menemukan 33,2% responden masuk kategori buta huruf Al-Qur’an. Jika digabungkan dengan kategori pembaca dasar, jumlah responden yang kemampuan membaca Al-Qur’annya masih sangat rendah mencapai 57,5%.

“Hari ini saya melaunching Program Pemberantasan Buta Huruf Al-Qur’an bersama Yayasan Sanggar Al-Qur’an Mardani Lima, sebagai ikhtiar mengatasi masalah ini dengan mempersiapkan para Guru/Relawan yang siap dan bisa memberantas buta huruf Al-Qur’an di masyarakat, dimulai dari Jakarta,” ujar Hidayat di Jakarta, Sabtu (10/10).

Program yang diinisiasi HNW sapaan akrabnya ini dan diikuti oleh ratusan peserta utusan dari setiap Kelurahan yang ada di Jakarta Selatan maupun Jakarta Pusat, mendapat dukungan BPKH RI melalui Program Kemaslahatan dengan Rumah Zakat sebagai mitra kemaslahatan. Pelaksanaannya mencakup pelatihan intensif selama tiga bulan yang dilanjutkan dengan implementasi lapangan.

Agar program ini tepat sasaran, terlebih dahulu dilakukan Survei oleh tim surveyor gabungan dari beberapa kampus Perguruan Tinggi Islam di DKI Jakarta seperti STIT AnNu’aimy, STAI AlHikmah, Universitas Darunnajah dll, dipimpin Oleh Ulumuddin Fakhri, Ph.D dari STIT An-Nuaimy dan Dr. Derysmono dari STAI DI Al-Hikmah.

Periode survei berlangsung 27 September–3 Oktober 2026 melalui wawancara tatap muka dengan teknik multistage stratified proportional random sampling. Sebanyak 600 responden dipilih dari 62 kelurahan terpilih di DKI Jakarta.

Berdasarkan hasil survei, 199 responden (33,2%) berada pada kategori K0 atau buta huruf Al-Qur’an, sedangkan 146 responden (24,3%) berada pada kategori K1 atau pembaca dasar. Adapun 170 responden (28,3%) masuk kategori pembaca menengah dan hanya 85 responden (14,2%) berkategori pembaca mahir. Prosentase yang didapat di Jakarta itu, menurut Hidayat, kalau dirujukkan pada hasil survey yang pernah disampaikan oleh Menteri Agama RI ; Prof Nazaruddin Umar pada akhir 2024, yang menyebutkan bahwa prosentase buta huruf alQuran di Indonesia pada kisaran 72,5%, artinya angka rata2 butahuruf alQuran di Jakarta yang 57%, masih jauh di bawah rata2 nasional. Maka Hidayat berharap agar Program di Jakarta ini menjadi pelopor sukses memberantas buta huruf alQuran, maka perlu dikolaborasikan pengembangannya dengan berbagai pihak yg punya program maupun perhatian sejenis baik Kementerian Agama, MUI, Ormas Islam, Majlis Taklim,maupun lembaga2 Zakat, termasuk dengan Pesantren2. Maka Hidayat yang juga Anggota DPR RI Fraksi PKS dari Dapil Jakarta II meliputi Jakarta Selatan, Pusat dan Luar Negeri ini juga mengusulkan agar Kementerian Agama melalui Dirjend Pondok Pesantrennya mengambil peran besar dengan bekerjasama dengan Pengasuh2 Pondok Pesantren untuk menugaskan kepada setiap Ustadz, Santri maupun Santriwati yang sebelum terjun ke masyarakat audah dibekali skill methode pengajaran alQuran untuk bisa berantas buta huruf alQuran. Ustadz/Santri akan melaksanakan program itu hanya beberapa hari saja dari libur panjang santri di akhir tahun ajaran. Dengan demikian mereka juga bisa melaksanakan ilmunya denga ikut berperan memberantas buta huruf alQuran dengan mengajarkan baca Al-Qur’an kepada keluarga, tetangga maupun jemaah Masjid/Musholla di mana dia berada. Dan nanti hasilnya dilaporkan kepada Pimpinan Pondok Pesantren saat kembali masuk belajar lagi di Pesantren, sebagai bagian dari program pembinaan dan pengabdian para santri di bawah satuan pendidikan keagamaan.

“Dengan begitu, liburan juga menjadi kesempatan para santri melaksanakan fungsi dakwah dan pengabdian masyarakat, sekaligus memperluas jangkauan pelaksanaan program pemberantasan buta huruf Al-Qur’an. Jika ini dilakukan dengan sungguh2, ikhlas dan berkelanjutan, maka inshaAllah dalam waktu kurang dari 10 tahun, masyarakat muslim seluruhnya bisa melek Al-Qur’an. Dan diharapkan dengan begitu, mereka bisa makin khusyu sholatnya dan makin sholih amalnya karena dengan bisa baca alQuran, diharap mereka akan lebih mencintai alQuran dan terdorong untuk memahami ajaran penting alQuran terkait ibadah, iman, alkhlak, maupun untuk bersikap kolaboratif, inklusif, menjadi generasi umat yg baik, berkontribusi bangun negerinya menjadi “baldatun thahyyibatun, menghadirkan peradaban utama deng alQuran yang mengajarkan agar umat menjadi rahmatan lil alamin”pungkas Hidayat.