banner 728x90
Daerah  

“Sense of Ownership, Sikap Wajib Security Profesional”

File 00000000e03c7208b74a4f395c28b248
banner 120x600

Dalam dunia kerja pengamanan, sense of ownership atau rasa memiliki menjadi salah satu faktor penting yang menentukan kualitas kinerja seorang anggota security. Tidak hanya menjalankan tugas sebagai rutinitas, tetapi setiap anggota dituntut untuk memiliki rasa tanggung jawab penuh terhadap area yang dijaga.
Rasa memiliki ini tercermin dari sikap sigap, peduli, dan inisiatif dalam menjalankan tugas tanpa harus selalu menunggu perintah. Security yang memiliki sense of ownership akan lebih peka terhadap situasi di lapangan, cepat dalam mengambil tindakan, serta menjaga lingkungan kerja seolah-olah itu adalah miliknya sendiri.
Sebaliknya, tanpa adanya rasa memiliki, pekerjaan akan dilakukan seadanya, kurang maksimal, dan berpotensi menimbulkan kelalaian yang dapat merugikan banyak pihak. Oleh karena itu, penting bagi setiap anggota untuk menanamkan prinsip bahwa tugas yang diemban bukan sekadar kewajiban, melainkan tanggung jawab yang harus dijalankan dengan penuh kesadaran dan disiplin.
Dengan menumbuhkan sense of ownership, diharapkan seluruh anggota security dapat meningkatkan kualitas pengamanan, memberikan rasa aman kepada lingkungan, serta menciptakan citra kerja yang profesional dan terpercaya.

Rasa memiliki adalah perasaan bahwa sesuatu itu “punya kita”, sehingga kita:
Peduli
Bertanggung jawab
Mau menjaga dan memperbaiki
Contoh:
Di pekerjaan:
Bukan sekadar kerja karena disuruh, tapi merasa “ini tanggung jawab saya”, jadi dikerjakan dengan sungguh-sungguh.
Sebagai security:
Menjaga area bukan cuma tugas, tapi merasa “ini wilayah saya”, jadi lebih waspada dan peduli.
Ciri-ciri orang yang punya rasa memiliki:
Tidak menunggu perintah
Mau ambil inisiatif
Bertanggung jawab atas hasil
Kerja konsisten, bukan tergantung mood.

Seorang Komandan Mendengar Keluhan Gaji kecil Anggotanya.

Kalimat itu ada benarnya,”tapi kalau dibiarkan, justru jadi jebakan yang bikin kondisi nggak berubah.
Gaji kecil memang bisa menurunkan semangat kerja, apalagi kalau beban besar dan apresiasi minim. Tapi kalau kerja ikut “kecil” juga, hasilnya biasanya tetap: gaji nggak naik, penilaian atasan biasa saja, peluang pun tertutup.

Coba lihat dari sudut lain:
1. Kerja tetap maksimal = investasi Walaupun gaji belum sesuai, kinerja tetap jadi “modal” untuk naik posisi, rekomendasi, atau pindah ke tempat yang lebih baik.

2. Sikap profesional itu dilihat Atasan lebih mudah menaikkan gaji atau memberi tanggung jawab ke orang yang konsisten, bukan yang kerja tergantung mood.

3. Cari solusi, bukan hanya mengeluh
Tingkatkan skill (misalnya ERT, komunikasi tamu, laporan)
Bangun reputasi disiplin dan sigap
Kalau memang tidak berkembang, mulai cari peluang lain.

“Gaji kecil jangan jadi alasan kerja asal-asalan. Justru dari kerja yang benar, kita membuka jalan untuk hasil yang lebih besar.”

“Kalau kerja ikut kecil karena gaji kecil, jangan harap hidup jadi besar.”

Anggota, mau naik gaji itu wajar. Tapi kalau kerja masih asal-asalan, itu bukan harapan… itu mimpi siang bolong.”

“Saya tidak butuh anggota yang pintar alasan. Saya butuh yang bisa kerja. Gaji naik itu ikut hasil, bukan ikut keinginan.”

“Jangan minta dihargai lebih kalau tanggung jawab saja masih sering ditinggal.”

“Kerja santai boleh, tapi jangan sampai tugas terbengkalai. Kita ini security, bukan penonton.”

“Kalau masih harus disuruh terus, berarti belum siap untuk naik. Yang siap itu bergerak tanpa disuruh.”

“Ingat, yang dilihat atasan bukan omongan… tapi tindakan di lapangan.”

“Naik gaji itu hak, tapi harus didahului dengan kewajiban yang benar.”

“Kalau disiplin masih bolong-bolong, jangan heran kalau rezeki juga ikut bolong.”

“Saya lebih pilih anggota yang diam tapi kerja, daripada banyak bicara tapi tidak ada hasil.”

“Mulai hari ini, buktikan kerja kalian. Bukan janji, bukan alasan. Hasil yang bicara.”

“Gaji pengin naik, kerja masih mode hemat energi… kayak genset standby, nyala kalau diingatkan aja.”

“Target hidup: gaji naik tiap bulan. Realita: patroli aja masih nunggu mood lewat.”

“Kerja santai bukan berarti malas… ini strategi biar tenaga awet sampai gajian berikutnya.”

“Kalau kerja cepat nanti dikira kuat, ujung-ujungnya nambah tugas. Mending santai tapi pasti… istirahatnya.”

“Pengin naik gaji, tapi langkah patroli masih pakai mode slow motion.”

“Kerja asal-asalan bukan tanpa alasan… alasannya nunggu gaji naik dulu baru serius.”

“Semangat kerja itu penting… makanya disimpan biar nggak cepat habis.”

“Kalau ditanya kenapa santai? Ini bagian dari pengamanan… biar suasana tetap ‘adem’.”

“Naik gaji itu harapan, kerja rajin itu rencana… tapi rebahan tetap prioritas.”

“Security juga manusia, kadang rajin… kadang ‘nanti aja’.”
Gaji pengin naik, tapi kerja masih kaya sinyal… kadang ada, kadang hilang.”

“Jangan mimpi naik gaji kalau patroli aja lebih sering duduk daripada jalan.”

“Serius dikit kerjanya… bos bukan butuh pajangan, tapi butuh yang bisa diandalkan.”

“Kalau maunya naik gaji, jangan kerjanya naik turun semangatnya.”

“Kerja asal-asalan itu cocoknya buat hobi, bukan buat cari nafkah.”

“Gaji nggak akan naik kalau kontribusi masih ‘standby terus’.”

“Kalau nunggu disuruh terus, kapan mau dianggap layak naik gaji?”

“Kerja santai boleh… tapi jangan sampai tanggung jawab ikut santai juga.”

“Yang rajin kerja diam-diam, biasanya yang naik gaji diam-diam juga.”

“Kalau mau dihargai lebih, ya kerja juga harus lebih—bukan alasan yang lebih.”

“Saya tidak capek memberi arahan, tapi saya capek melihat yang sama terus diulang.
Disiplin itu bukan soal diawasi, tapi soal harga diri.
Kalau masih harus disuruh dan diingatkan terus, berarti kalian belum pantas disebut anggota yang siap.
Komandan bisa memimpin, tapi tidak bisa merubah orang yang tidak punya niat berubah.”

“Masalah kita bukan kurang aturan, tapi kurang kesadaran.
Saya bisa perintah, tapi tidak bisa memaksa kalian jadi disiplin kalau dari diri sendiri tidak ada niat.”

“Saya tidak butuh anggota yang hanya hadir, tapi tidak punya disiplin. Perintah bisa saya ulang, aturan bisa saya jelaskan, tapi kalau sikap tidak mau berubah, itu bukan lagi masalah kemampuan—itu pilihan.”

“Saya sudah beri arahan, saya sudah beri contoh. Tapi kalau disiplin masih dianggap sepele, berarti kalian belum paham arti tanggung jawab. Komandan bisa memimpin, tapi tidak bisa memaksa hati yang tidak mau berubah.”

“Yang sulit itu bukan medan, tapi merubah orang yang tidak mau berubah. Kalau kalian terus seperti ini, bukan saya yang gagal memimpin—kalian yang memilih untuk tidak berkembang.”

“Disiplin itu bukan karena diawasi, tapi karena sadar. Kalau kesadaran itu tidak ada, sekeras apapun komandan menekan, hasilnya tetap sama.”

“Saya sudah beri arahan, saya sudah beri contoh. Tapi kalau disiplin masih dianggap sepele, berarti kalian belum siap jadi anggota yang bisa diandalkan.
Komandan bisa memimpin, tapi tidak bisa merubah orang yang tidak punya niat berubah.
Ingat, yang saya butuhkan bukan sekadar hadir… tapi anggota yang punya tanggung jawab dan disiplin.”

“Perintah bisa saya ulang, aturan bisa saya tegakkan. Tapi kalau sikap kalian tetap sama, itu bukan lagi masalah komandan—itu pilihan kalian sendiri.

Disiplin bukan dipaksa, tapi dibentuk dari kesadaran.

“Perintah bisa didengar, tapi perubahan hanya terjadi kalau ada niat. Kalau niat saja tidak ada, jangan salahkan komandan.”

“Saya sudah beri arahan, saya sudah beri contoh. Tapi kalau disiplin masih dianggap sepele, berarti kalian belum siap jadi anggota yang bisa diandalkan.
Komandan bisa memimpin, tapi tidak bisa merubah orang yang tidak punya niat berubah.
Ingat, yang saya butuhkan bukan sekadar hadir… tapi anggota yang punya tanggung jawab dan disiplin.”
Alternatif yang lebih tegas:
“Perintah bisa saya ulang, aturan bisa saya tegakkan. Tapi kalau sikap kalian tetap sama, itu bukan lagi masalah komandan—itu pilihan kalian sendiri.
Disiplin bukan dipaksa, tapi dibentuk dari kesadaran.”

Penulis: Sawijan wmcEditor: Sawijan wmc