WMC, Sofifi- Aliansi Mahasiswa Kabupaten Halmahera Timur dan Halmahera Tengah Kembali Mengepung DPR Dan POLDA Malut Desak Jaminan Keamanan Di Hutan Haltim Dan Halteng, Aksi yang dimulai pukul 07:29 WIT, di kantor DPRD provinsi Malut, tak berselang lama masa aksi kemudian merembuk dan menyampaikan apa yang menjadi tuntutan pada Senin (27/04/2026).
Masa yang tergabung dari dua Kabupaten Halmahera Timur dan Halmahera Tengah (Haltim-Halteng) melakukan protes dengan tajuk berikan jaminan keamanan kepada petani & usut tuntas kasus teror dan pembunuhan di Haltm-Halteng.
Masa aksi kemudian yang tergabung dalam solidaritas menyampaikan sejak awal 1985 tragedi mutilasi pembunuhan berantai yang ada di dua kabupaten, pemerintah provinsi Maluku utara, pihak kepolisian/TNI tidak punya insiatif yang serius untuk tangkap dan adili kasus teror, mutilasi yang terjadi di Halmahera tengah & Halmahera timur sehingga teror & mutilasi ini terus terjadi.
Nyatanya menurut masa aksi tepat pada tanggal 2 April 2026 tragedi mutilasi kembali terjadi di kabupaten Halmahera tengah, Khususnya patani barat (Banemo) kasus ini terjadi ketika seorang petani mamasuki hutan untuk mengais rezeki sebagai petani, menanam, merawat, sebagaimana hidup sejak awal masyarakat petani, yang menjadi tuntutan kebutuhan ekonomi .
Belum lagi selesai ditelinga masyarakat Maluku utara tragedi pembunuhan berantai yang terjadi di April 2026, kini terjadi lagi teror pada 27 April 2026 ini memang sudah tidak wajar ketika pihak yang berwenang kepolisian/TNI dan pemerintah Malut tidak mengungkap aktor intelektual dibalik pembunuhan, dan teror ini.
Aksi yang berjalan memanas itu dari pantauan media wartamerdeka.com tidak ada satupun Anggota DPRD Provinsi Maluku Utara yang berkantor, tentu ini keburukan dari Wakil rakyat Maluku Utara. Sekitar pukul 09.46 masa aksi membacakan isu tuntutan solidaritas dan melanutkan rute aksi ke Polda Malut dan tiba 10;50 di depan ( Polda Maluku Utara) moderator langsung memberikan corong ke kawan yang terintegrasi, yakni kawan tahmid untuk menyampikan pendapatnya.

Tahmid menyampikan hanya untuk kepentingan kapital, Negara tegah mengambil nyawa masyarakat Halmahera tengah & Halmahera timur hanya untuk kepentingan oligarki, bahkan kami masyarakat yang telah lama hidup berdampingan dengan alam,cenkeh,pala,kelapa,kopra & tumbuhan lainya.
Adapun tuntutan yang disampaikan Dengan tuntutan yang dibawa diantaranya:
- Usut tuntas kasus pembunuhan di hutan Haltim-Halteng
- Wujudkan reforma agraria sejati
- Selamatkan hutan Halmahera dari eksploitasi tambang
- Periksa pemilik IUP yang berinvestasi di tempat kejadian perkara
- Bangun jalan untuk petani di Halmahera
- Segera publikasi seluruh catatan hasil visum korban pembunuhan dari tahun ke tahun
- Optimalisasi akses listrik dan air bersih di Kecamatan Pulau Gebe
- Seriusi sengketa tiga pulau milik warga Gebe, yang diklaim









