banner 728x90

Kinerja Ketua Pansus Pengelolaan Sampah DPRD DKI Wawan Diapresiasi, Habibie: Ini Pikiran Besar Atasi Krisis Sampah Jakarta

Img 20260425 Wa0014
banner 120x600

JAKARTA – Sekretaris Jenderal DPP Pemuda LIRA Habibie Mahabbah, SIP, MM kembali menegaskan dukungannya terhadap langkah Ketua Pansus Pengelolaan Sampah DPRD DKI Jakarta Judistira Harmawan yang menargetkan penghentian pengiriman sampah ke TPST Bantar Gebang pada 2030. Namun, ia mengingatkan bahwa target tersebut hanya dapat tercapai jika Jakarta berani melakukan “revolusi sistem” dalam tata kelola sampah.

Dalam pendekatan investigatif, Habibie melihat gagasan yang disampaikan Wawan bukan sekadar ambisi politik, melainkan kerangka besar transformasi kota.

“Yang disampaikan Abang Ketua Wawan adalah pikiran besar. Ini bukan program biasa, tapi arah baru untuk membangun Jakarta bebas dari masalah sampah secara permanen,” kata Habibie kepada wartawan, Jakarta, Selasa (28/4/2026).

Apresiasi dan Catatan Kritis

Habibie memberikan apresiasi tinggi atas ide besar yang diusung Wawan. Ia menilai, keberanian menetapkan target 2030 menunjukkan adanya kesadaran bahwa krisis sampah Jakarta sudah berada di titik genting.

“Ini menunjukkan kepemimpinan yang berani keluar dari pola lama yang selama ini hanya memindahkan masalah ke pinggiran kota,” ujarnya.

Ia juga menyoroti kerja intensif Pansus DPRD DKI Jakarta yang dinilai tidak sekadar formalitas.

“Abang Ketua Wawan bekerja keras dengan timnya di DPRD DKI agar rekomendasi yang disampaikan kepada Gubernur benar-benar berbasis kebutuhan riil, bukan sekadar konsep di atas kertas,” tambahnya.

Bantar Gebang: Simbol Kegagalan Sistem Lama

Habibie menilai kondisi TPST Bantar Gebang yang telah melampaui kapasitas adalah bukti nyata kegagalan sistem pengelolaan sampah konvensional.

Ketergantungan pada satu lokasi pembuangan, menurutnya, tidak hanya menimbulkan risiko lingkungan, tetapi juga masalah sosial dan ekonomi.

“Bantar Gebang selama ini dijadikan solusi tunggal. Padahal, itu justru memperbesar risiko, baik dari sisi keselamatan, biaya logistik, maupun konflik sosial,” jelasnya.

Modernisasi: Sampah Jadi Energi

Habibie menekankan bahwa masa depan pengelolaan sampah Jakarta harus mengarah pada sistem modern berbasis teknologi, seperti yang diterapkan di berbagai negara maju.

Ia menyebut pengolahan sampah menjadi energi sebagai salah satu solusi strategis.

“Sampah itu bukan akhir, tapi awal dari energi baru. Dengan teknologi seperti RDF dan ITF, sampah bisa diubah menjadi bahan bakar alternatif bahkan listrik. Ini harus menjadi arah kebijakan Jakarta ke depan,” tegasnya.

Menurutnya, pendekatan ini tidak hanya menyelesaikan masalah lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru melalui energi terbarukan.

Tantangan Nyata: Dari Hulu ke Hilir

Meski optimistis, Habibie tidak menutup mata terhadap berbagai tantangan besar yang akan dihadapi. Ia menilai persoalan sampah Jakarta bersifat kompleks dan berlapis.

Mulai dari rendahnya kesadaran masyarakat dalam memilah sampah, minimnya infrastruktur di tingkat permukiman, hingga potensi penolakan warga terhadap pembangunan fasilitas pengolahan.

“Ini bukan hanya tantangan teknis, tapi juga struktural. Harus ada reformasi menyeluruh dari hulu hingga hilir. Kalau tidak, target 2030 hanya akan menjadi slogan,” ujarnya.

Kunci Keberhasilan: Konsistensi dan Kolaborasi

Habibie menegaskan bahwa keberhasilan program ini sangat bergantung pada konsistensi kebijakan dan kolaborasi lintas sektor.

Ia juga mendorong keterlibatan aktif generasi muda dalam membangun budaya baru pengelolaan sampah.

“Perubahan ini tidak bisa hanya digerakkan oleh pemerintah. Harus menjadi gerakan sosial. Pemuda punya peran penting untuk mengubah pola pikir masyarakat,” katanya.

Antara Ambisi dan Realitas

Di akhir pernyataannya, Habibie menyebut target 2030 sebagai “ambisi yang realistis” selama didukung peta jalan yang jelas, anggaran yang memadai, dan komitmen politik yang kuat.

“Apa yang dilakukan Abang Ketua Wawan hari ini adalah fondasi. Tinggal bagaimana semua pihak menjaga konsistensi agar target besar ini tidak berhenti sebagai wacana,” pungkasnya.

Catatan Habibie:

Upaya menghentikan pengiriman sampah ke Bantar Gebang membuka babak baru dalam tata kelola lingkungan Jakarta. Namun, di balik ambisi tersebut, tersimpan pekerjaan rumah besar: membangun sistem yang tidak hanya canggih secara teknologi, tetapi juga kuat secara sosial dan kelembagaan. Tanpa itu, transformasi hanya akan menjadi retorika tanpa dampak nyata.