JAKARTA – Di tengah dinamika global yang kian tidak menentu, realisasi proyek hilirisasi nasional dinilai menjadi penanda kuat bahwa pembangunan Indonesia tetap berada di jalur yang konsisten dan berkelanjutan.
Anggota DPR RI, Bambang Soesatyo, menyebut dimulainya realisasi 13 proyek hilirisasi fase II pada April 2026 sebagai sinyal optimisme di tengah tekanan ekonomi dunia.
“Ketika banyak negara menghadapi ketidakpastian, Indonesia justru menunjukkan bahwa pembangunan nasional tidak stagnan. Ini bukti nyata bahwa arah pembangunan tetap terjaga,” kata Bamsoet dalam catatan politiknya, Jakarta, Senin (4/5/2026).
Menurutnya, kondisi global saat ini diwarnai oleh ketegangan geopolitik, fluktuasi harga energi, serta ketidakstabilan nilai tukar yang berdampak langsung pada biaya produksi dan distribusi. Situasi tersebut turut menekan daya beli masyarakat dan berpotensi meningkatkan angka pengangguran.
Namun di tengah tekanan tersebut, pemerintah di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto tetap melanjutkan agenda strategis hilirisasi sebagai bagian dari transformasi ekonomi nasional.
“Peresmian proyek hilirisasi bukan sekadar seremoni, tetapi refleksi keseriusan pemerintah dalam menjaga kesinambungan pembangunan sekaligus memperkuat fondasi ekonomi nasional,” tegasnya.
Bamsoet menjelaskan, proyek hilirisasi memiliki peran penting dalam meningkatkan nilai tambah sumber daya alam melalui proses pengolahan di dalam negeri. Selain memperkuat industri nasional, langkah ini juga diyakini mampu mengurangi ketergantungan terhadap impor.
Ia juga menyoroti bahwa keberhasilan hilirisasi tidak hanya diukur dari nilai investasi, tetapi juga dari dampaknya terhadap penyerapan tenaga kerja.
“Publik berhak mengetahui berapa besar kebutuhan tenaga kerja dari proyek-proyek ini. Transparansi itu penting agar masyarakat, khususnya generasi muda, bisa mempersiapkan diri,” ujarnya.
Lebih jauh, Bamsoet mengingatkan bahwa fokus terhadap pembangunan harus menjadi prioritas bersama, di tengah kecenderungan polarisasi sosial yang semakin tajam.
“Kita tidak boleh larut dalam perbedaan yang memperlemah. Justru di saat seperti ini, semua elemen bangsa harus menjaga konsistensi pembangunan nasional yang berkelanjutan,” katanya.
Ia pun mendorong pemerintah daerah untuk lebih proaktif mengidentifikasi dan mengembangkan potensi daerah masing-masing agar dapat terintegrasi dalam program hilirisasi nasional.
“Target 30 proyek hilirisasi dengan nilai ratusan triliun rupiah membuka peluang besar bagi daerah. Kreativitas dan inisiatif daerah sangat menentukan pemerataan manfaat pembangunan,” tutup Bamsoet.





