JAKARTA — Peringatan Hari Pramuka ke-65 tahun 2026 menjadi momentum penting untuk merefleksikan kembali peran strategis gerakan kepanduan dalam pembangunan nasional. Anggota DPR RI, Habib Aboe Bakar Al-Habsyi, memberikan dorongan kuat agar Gerakan Pramuka terlibat aktif dalam menyukseskan program swasembada pangan nasional.
Sebagai seorang purna Pramuka, Habib Aboe Bakar memiliki ikatan emosional dan sejarah yang kuat dengan organisasi ini. Di masa mudanya, ia merupakan aktivis Pramuka yang aktif dan menorehkan prestasi hingga tingkat internasional.
“Saya ini purna Pramuka. Saat muda, saya adalah aktivis Pramuka yang terjun langsung di lapangan. Pengalaman paling berkesan bagi saya adalah menjadi salah satu peserta Jambore Nasional III dan Jambore Asia Pasifik ke-6 pada tahun 1981 silam. Nilai-nilai kedisiplinan dan kemandirian dari sana yang membentuk saya hingga hari ini,” ujar Habib Aboe Bakar di Jakarta, Jumat (14/8/2026).
Melihat perkembangan saat ini, ia memuji langkah Kwartir Nasional yang menetapkan arah gerakan yang sejalan dengan kebutuhan bangsa. Ia menilai tema peringatan tahun ini sangat tepat dan visioner.
“Tema Hari Pramuka ke-65 ini sangat bagus, yaitu ‘Memantapkan Langkah Organisasi Mendukung Swasembada Pangan Menuju Indonesia Emas 2045’. Ini bukan sekadar slogan, tetapi panggilan aksi bagi seluruh elemen Pramuka,” tegasnya.
Menurut legislator senior ini, dunia Pramuka sebenarnya memiliki kedekatan historis dan praktis yang sangat erat dengan sektor pertanian. Ia mengingatkan kembali sejarah gerakan kepanduan tanah air yang selalu adaptif terhadap kebutuhan masyarakat.
“Pramuka itu sangat dekat dengan pertanian. Jika kita menengok sejarah, pada tahun 1970-an ada gerakan Renewing of Scouting yang dipelopori oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Saat itu, Pramuka memfokuskan kegiatannya pada pengabdian masyarakat. Manifestasi konkritnya adalah pembentukan Kompi Taruna Bumi,” jelas Habib Aboe Bakar.
Ia menambahkan bahwa pembentukan kompi tersebut bertujuan untuk menerjunkan anggota Pramuka langsung ke desa-desa. Langkah ini diambil untuk membantu 75 persen penduduk Indonesia yang saat itu mayoritas merupakan keluarga petani di pedesaan.
“Gerakan tersebut kemudian berkembang menjadi Satuan Karya (Saka) Taruma Bumi. Di sinilah terjadi integrasi yang luar biasa antara pendidikan informal Pramuka dengan ilmu pertanian praktis. Jadi, keterlibatan Pramuka dalam urusan pangan ini punya akar sejarah yang sangat kuat,” urainya.
Habib Aboe Bakar menekankan bahwa kekuatan utama Gerakan Pramuka terletak pada implementasi materi di lapangan, bukan sekadar hafalan di dalam tenda atau ruangan.
“Selama ini Pramuka bukan sekadar belajar teori. Mereka bertindak nyata sebagai agen perubahan dan motor penggerak dalam menyebarkan inovasi pertanian, memperkuat pangan keluarga, serta mencetak SDM pertanian yang disiplin dan mandiri,” kata Sekretaris Jenderal PKS tersebut.
Menutup pernyatannya, ia mengajak seluruh pengurus, pembina, dan anggota Pramuka di seluruh tingkatan untuk menjadikan momentum Hari Pramuka ke-65 ini sebagai tonggak awal gerakan ketahanan pangan yang masif.
“Oleh karenanya, potensi besar ini harus kita dorong bersama. Pramuka harus maju di garda depan untuk membantu swasembada pangan nasional demi menyongsong Indonesia Emas 2045,” pungkasnya.





