JAKARTA – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Fraksi PDI Perjuangan, Hj. Siti Aisyah, mengajak seluruh elemen bangsa menjadikan peringatan 30 tahun Tragedi KUDATULI (Kerusuhan 27 Juli 1996) sebagai momentum memperkuat komitmen terhadap penegakan hukum yang berkeadilan dan menjaga demokrasi yang sehat di Indonesia.
Menurut Siti Aisyah, Tragedi KUDATULI merupakan salah satu catatan kelam dalam perjalanan demokrasi Indonesia yang tidak boleh dilupakan. Peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa penggunaan kekerasan untuk mempertahankan atau merebut kekuasaan tidak boleh lagi mendapat tempat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Tragedi KUDATULI adalah sejarah kelam yang harus selalu kita ingat agar tidak pernah terulang kembali. Kekerasan atas nama kekuasaan harus dihentikan sepenuhnya. Bangsa ini harus belajar dari masa lalu demi membangun masa depan yang lebih demokratis dan berkeadilan,” ujar Siti Aisyah.
Anggota DPR RI dari Daerah Pemilihan (Dapil) Riau II itu menegaskan bahwa penegakan hukum yang adil menjadi fondasi utama bagi tegaknya demokrasi. Menurutnya, hukum harus hadir tanpa diskriminasi sehingga mampu memberikan rasa keadilan kepada seluruh rakyat, termasuk bagi para korban berbagai pelanggaran yang masih memperjuangkan kebenaran.
“Hanya dengan hukum yang berkeadilan, demokrasi akan tumbuh sehat dan kepercayaan masyarakat terhadap negara dapat terus terjaga. Tidak boleh ada hukum yang tebang pilih,” katanya.
Siti Aisyah juga mengingatkan pentingnya memberikan edukasi sejarah kepada generasi muda agar memahami nilai-nilai demokrasi, hak asasi manusia, serta pentingnya menyelesaikan setiap perbedaan melalui dialog dan mekanisme konstitusional, bukan dengan kekerasan.
Dalam unggahan di akun Instagram pribadinya, Siti Aisyah kembali menegaskan makna peringatan tersebut. Ia menyampaikan bahwa peringatan Tragedi Kudatuli (Kerusuhan 27 Juli 1996) adalah pengingat bahwa kekerasan atas nama kekuasaan tidak boleh terjadi lagi, serta ajakan untuk menegakkan hukum yang berkeadilan dan merawat demokrasi yang sehat, disertai tagar #kudatuli dan #kudatuli1996.
Sebagai informasi, Tragedi KUDATULI terjadi pada 27 Juli 1996 ketika Kantor Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Demokrasi Indonesia (PDI) di Jalan Diponegoro, Jakarta, diserbu di tengah konflik internal partai. Peristiwa tersebut mengakibatkan korban jiwa, korban luka, serta kerusakan fasilitas, dan hingga kini dikenang sebagai salah satu peristiwa penting yang turut mewarnai perjalanan menuju era Reformasi di Indonesia.
Bagi Siti Aisyah, peringatan 30 tahun KUDATULI bukan sekadar mengenang masa lalu, tetapi juga menjadi pengingat bagi seluruh bangsa untuk terus menjaga demokrasi, menghormati hak asasi manusia, serta memastikan hukum ditegakkan secara adil demi terwujudnya Indonesia yang lebih beradab, demokratis, dan berkeadilan.





