banner 728x90

Hizkia Darmayana: Konser Andrea Bocelli di Borobudur, Wahana Penguatan Soft Power Nasional

Img 20261009 Wa0012
banner 120x600

Jakarta– Pengamat Sosial Hizkia Darmayana menilai rencana penyelenggaraan konser Andrea Bocelli, penyanyi tenor legendaris asal Italia, di kawasan Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, merupakan momentum strategis untuk semakin memperkenalkan salah satu warisan budaya paling berharga milik Indonesia kepada masyarakat dunia.

Menurut Hizkia, Candi Borobudur bukan sekadar bangunan bersejarah atau destinasi pariwisata, melainkan representasi keagungan peradaban, kecanggihan arsitektur, dan kekayaan spiritual Nusantara yang memiliki nilai universal. Karena itu, penyelenggaraan kegiatan kebudayaan berskala internasional di kawasan tersebut dapat menjadi sarana untuk memperluas jangkauan pengenalan Borobudur kepada publik global.

“Konser Andrea Bocelli di Candi Borobudur harus kita lihat dalam perspektif yang lebih luas. Ini bukan semata-mata pertunjukan musik, melainkan peluang untuk semakin memperkenalkan Borobudur kepada dunia melalui pertemuan antara seni musik kelas dunia dan warisan peradaban Indonesia,” tegas Hizkia, Senin (12/10/2026).

Ia menjelaskan, Andrea Bocelli merupakan seniman dengan reputasi internasional yang memiliki daya tarik lintas negara dan lintas generasi. Kehadiran figur sekaliber Bocelli dalam sebuah pertunjukan di Borobudur berpotensi menarik perhatian publik internasional, sekaligus membangun asosiasi positif antara Indonesia, kekayaan budayanya, dan pengalaman seni yang berkualitas.

Lebih jauh, Hizkia memandang momentum tersebut sebagai bagian dari upaya menjadikan kebudayaan nasional sebagai soft power Indonesia dalam hubungan internasional. Dalam perspektif hubungan internasional, soft power merupakan kemampuan suatu negara untuk membangun daya tarik dan memengaruhi pihak lain melalui kebudayaan, nilai, serta citra positif, bukan semata-mata melalui kekuatan militer ataupun tekanan ekonomi.

“Indonesia memiliki modal kebudayaan yang luar biasa. Borobudur, seni tradisional, musik, bahasa, kuliner, hingga keragaman ekspresi budaya kita merupakan sumber daya strategis untuk membangun daya tarik Indonesia di mata dunia. Tantangannya adalah bagaimana modal kebudayaan tersebut dikelola secara kreatif, profesional, dan berkelanjutan,” ujarnya.

Hizkia menambahkan, diplomasi kebudayaan tidak seharusnya dipahami hanya sebagai upaya memperkenalkan kesenian tradisional kepada masyarakat internasional. Sebaliknya, diplomasi kebudayaan juga dapat diwujudkan melalui kolaborasi antara warisan budaya, seniman internasional, industri kreatif, dan sektor pariwisata, sepanjang tetap menghormati nilai historis serta karakter situs yang menjadi tuan rumah.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa pemanfaatan Candi Borobudur untuk kegiatan internasional harus senantiasa mengutamakan pelestarian warisan budaya. Pengelola perlu memastikan bahwa penyelenggaraan acara memperhatikan daya dukung kawasan, perlindungan struktur candi, kelestarian lingkungan, serta penghormatan terhadap nilai sejarah dan spiritual situs tersebut.

Menurutnya, keberhasilan sebuah acara kebudayaan tidak cukup diukur dari kemegahan pertunjukan ataupun popularitas artis yang tampil. Manfaat jangka panjang bagi promosi kebudayaan Indonesia, peningkatan kualitas pariwisata, penguatan ekonomi masyarakat setempat, dan pelestarian warisan budaya juga harus menjadi ukuran utama.

“Jangan sampai kita hanya berhasil menyelenggarakan pertunjukan yang megah, tetapi gagal menjadikannya sebagai investasi kebudayaan. Konser seperti ini seharusnya meninggalkan warisan berupa meningkatnya pengenalan dunia terhadap Borobudur, terbukanya peluang bagi pelaku ekonomi kreatif lokal, dan semakin kuatnya posisi kebudayaan Indonesia dalam pergaulan internasional,” pungkas Hizkia Darmayana.