JAKARTA – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi salah satu pilar utama gagasan Prabowonomics ditegaskan sebagai strategi pembangunan nasional yang krusial. Wakil Bendahara Umum Depinas SOKSI Ambar Chrisdiana menyebut program ini sebagai langkah penting untuk membawa Indonesia keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap).
Menurut Ambar, MBG bukan sekadar kebijakan populis, melainkan fondasi dalam mencetak sumber daya manusia (SDM) unggul dan berdaya saing global.
“Program pembangunan nutrisi bagi siswa dan anak usia dini bukan hal baru di dunia. Negara-negara maju telah lebih dulu menerapkannya secara konsisten,” ujar Ambar di sela Rapat Pleno Depinas SOKSI, Jakarta, Senin (4/5/2026).
Ia mencontohkan Jepang yang sejak pasca Perang Dunia II telah menjalankan kebijakan shokuiku untuk memperkuat kualitas generasi muda. Selain itu, negara seperti Brasil, Swedia, Finlandia, hingga India juga membuktikan bahwa pemenuhan gizi sejak dini berperan besar dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan produktivitas tenaga kerja.
Ambar mengakui bahwa implementasi program MBG di Indonesia menghadapi tantangan, mengingat jumlah penduduk yang besar. Namun, ia menilai hal tersebut sebagai bagian dari proses adaptasi kebijakan berskala nasional.
“Mengelola bangsa sebesar Indonesia membutuhkan keberanian untuk mengambil langkah besar. Dinamika di lapangan harus menjadi bahan evaluasi, bukan alasan untuk menghentikan program,” tegasnya.
Ia juga menyoroti kritik yang berkembang di media sosial, yang menurutnya banyak bersifat subjektif dan tidak menawarkan solusi konstruktif. Masyarakat, kata dia, perlu melihat program MBG secara lebih objektif sebagai investasi jangka panjang bagi masa depan bangsa.
“MBG adalah wujud bahwa pembangunan tidak hanya soal infrastruktur, tetapi juga pembangunan manusia. Nutrisi yang cukup akan melahirkan generasi yang sehat, cerdas, dan tangguh,” ujarnya.
Ambar menambahkan, keberlanjutan program ini menjadi kunci dalam mewujudkan visi Indonesia Emas. Dengan memperkuat kualitas SDM sejak dini, Indonesia diharapkan mampu menjadi pemain utama dalam persaingan global.
“Ini adalah komitmen jangka panjang agar anak-anak Indonesia tidak hanya menjadi penonton, tetapi pelaku utama di masa depan,” terang Ambar.





