JAKARTA – Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Mukhtarudin membagikan kisah inspiratif purna pekerja migran asal Tawangmangu, Edi Susanto, sebagai contoh keberhasilan membangun usaha setelah kembali ke Indonesia.
Kisah tersebut disampaikan melalui akun Instagram pribadinya pada Ahad (3/5/2026). Mukhtarudin menekankan bahwa pengalaman bekerja di luar negeri tidak hanya soal mencari penghasilan, tetapi juga menjadi bekal penting untuk merintis usaha di kampung halaman.
“Pengalaman di luar negeri adalah modal berharga untuk membangun masa depan yang lebih baik ketika pulang,” tulis Mukhtarudin dalam unggahannya.
Dalam video yang dibagikan, Edi diceritakan tidak langsung meraih kesuksesan. Ia sempat mengalami kegagalan saat mencoba berbagai usaha, mulai dari bisnis kayu hingga warung internet. Namun, kegagalan tersebut justru membentuk ketahanan mental dan memperkuat kemampuan manajerial yang ia pelajari selama bekerja di Jepang.
Titik balik terjadi ketika Edi melihat potensi singkong lokal varietas Jalak Towo yang belum dimanfaatkan secara optimal di daerahnya. Dengan inovasi dan ketekunan, ia kemudian mengembangkan produk olahan tradisional menjadi lebih modern melalui usaha “getuk take” yang dirintis sejak 2016.
Menurut Mukhtarudin, keberhasilan Edi terletak pada kemampuannya melihat peluang dari hal sederhana serta konsistensi dalam mengembangkan usaha. Ia juga menyoroti pentingnya literasi keuangan dan pengelolaan bisnis yang baik bagi para purna pekerja migran.
Kini, usaha yang dirintis Edi tidak hanya menjadi oleh-oleh khas Tawangmangu, tetapi juga mampu membuka lapangan kerja bagi puluhan warga sekitar. Produk yang dihasilkan pun terus berinovasi, mulai dari varian rasa hingga kemasan yang lebih modern dan higienis agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
Selain itu, Edi juga aktif memberdayakan masyarakat, khususnya mantan pekerja migran dan ibu rumah tangga, untuk terlibat dalam proses produksi. Ia bahkan menerapkan standar kebersihan dan kualitas yang diadaptasi dari pengalaman kerjanya di Jepang.
Dalam hal pemasaran, Edi memanfaatkan platform digital, termasuk penjualan daring dan promosi melalui media sosial. Strategi ini membuat produknya tidak hanya dikenal di pasar lokal, tetapi juga menjangkau pasar nasional hingga internasional.
Mukhtarudin menegaskan, kisah ini menjadi bukti bahwa kepulangan pekerja migran dapat memberikan dampak ekonomi signifikan bagi daerah.
“‘Migran Aman, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju’ bukan sekadar slogan, tetapi harus diwujudkan melalui aksi nyata,” ujarnya.
Ia pun mengajak para pekerja migran Indonesia, baik yang masih bekerja di luar negeri maupun yang telah kembali, untuk berani memulai usaha dan memanfaatkan pengalaman yang dimiliki.
“Setiap perjalanan pulang membawa peluang. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk memulai dan konsistensi untuk bertahan,” kata Mukhtarudin.





