banner 728x90
Daerah  

Iraga Nu Ngelanturang: Ketika Ngayah Menjadi Jembatan Sunyi antara Manusia, Leluhur dan Semesta

Screenshot 20260612 165240 Video Player
banner 120x600

Bali – Di tengah derasnya arus modernisasi yang terus mengubah wajah kehidupan masyarakat, Anggota DPR RI dari Bali, I Nyoman Parta, mengingatkan pentingnya menjaga dan memahami kembali makna sejati tradisi ngayah yang selama ratusan tahun menjadi fondasi kehidupan sosial dan spiritual masyarakat Bali.

Menurut Parta, ngayah sering kali dipahami secara sederhana sebagai aktivitas membantu persiapan upacara atau bekerja di lingkungan pura. Padahal, pemahaman tersebut belum sepenuhnya menggambarkan hakikat ngayah yang sesungguhnya. Ia menegaskan bahwa masyarakat Bali sejak dahulu tidak pernah mengenal istilah “kerja di pura”, melainkan “ngayah ke pura”.

“Ngayah ada juga yang menyebut ngayahin, mengabdi. Jadi ngayah itu bentuk yadnya, bentuk persembahan. Krama mengorbankan waktu, tenaga, pikiran bahkan ego. Namun yang dipersembahkan bukan hanya keringat. Yang paling utama adalah niat baik, ketulusan dan rasa hormat kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, para leluhur, serta alam semesta,” ujarnya.

Bagi Parta, ngayah tidak dapat dipisahkan dari konsep yadnya dalam ajaran Hindu Bali. Aktivitas membuat sarana upakara, menyiapkan banten, membersihkan areal pura, mengangkat sesajen, hingga membantu berbagai kebutuhan pelaksanaan odalan hanyalah wujud lahiriah yang terlihat. Sementara esensi terdalamnya terletak pada ketulusan hati ketika seseorang memberikan dirinya untuk kepentingan yang lebih besar daripada dirinya sendiri.

Dalam tradisi Bali, lanjutnya, ngayah menjadi ruang yang unik karena mampu menghapus sekat-sekat sosial yang dalam kehidupan sehari-hari sering kali membedakan satu orang dengan orang lainnya. Jabatan, kekayaan, pendidikan, dan status sosial yang biasanya melekat pada seseorang menjadi tidak relevan ketika berada dalam suasana ngayah.

“Ngayah mengajarkan kita menjauhkan ego. Menurunkan status. Pejabat, dokter, petani, pengusaha, guru, ASN, semuanya duduk bersama. Ada yang membuat sarana upakara, ada yang mengangkat sesajen, ada yang membersihkan bale banjar atau wantilan. Tidak ada pangkat,” kata Parta.

Ia menilai nilai kesetaraan tersebut merupakan salah satu kekuatan terbesar masyarakat Bali yang mampu menjaga kebersamaan lintas generasi. Di lingkungan banjar maupun desa adat, seluruh krama memiliki kedudukan yang sama ketika melaksanakan kewajiban ngayah.

“Di banjar dan desa semua sama. Itu latihan spiritual yang paling jujur. Tidak ada yang lebih besar dari desa,” tegasnya.

Parta juga mengajak masyarakat melihat ngayah bukan hanya sebagai aktivitas masa kini, melainkan sebagai mata rantai panjang yang menghubungkan generasi sekarang dengan para leluhur yang telah lebih dahulu membangun peradaban Bali. Menurutnya, hampir seluruh pura, bale banjar, wantilan, dan berbagai sarana adat yang masih berdiri hingga sekarang merupakan hasil kerja kolektif dan pengorbanan generasi-generasi sebelumnya.

“Setiap batu pura, setiap pelinggih, setiap rangkaian odalan yang kita lihat hari ini dibangun oleh leluhur ratusan tahun lalu. Ketika kita ngayah, sebenarnya kita sedang menyambung benang itu,” ujarnya.

Ia menggambarkan ngayah sebagai proses menyambung untaian doa dan bakti yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dalam setiap kegiatan ngayah terdapat energi kebersamaan yang terus dirawat dan diwariskan.

“Ngayah menghubungkan energi positif, vibrasi positif. Jadi kita tidak memulai dari nol lagi. Kita meneruskan, merajut dan merawat apa yang telah diwariskan oleh leluhur,” katanya.

Di tengah kesibukan masyarakat modern yang semakin kompleks, Parta menyadari bahwa meluangkan waktu untuk ngayah tidak selalu mudah. Banyak orang harus bangun lebih pagi, meninggalkan pekerjaan sementara, atau mengorbankan waktu pribadi demi memenuhi kewajiban adat dan spiritual. Namun menurutnya, pengorbanan tersebut justru melahirkan kepuasan batin yang tidak bisa diukur dengan materi.

“Kadang capek, kadang harus bangun pagi, kadang harus meninggalkan aktivitas lain. Tetapi mereka yang tulus pasti merasakan kedamaian. Ada rasa bangga yang muncul dari dalam diri,” ungkapnya.

Perasaan itu, kata Parta, sering kali terwakili dalam satu ungkapan sederhana yang hidup di tengah masyarakat Bali, yakni ‘Iraga nu ngelanturang’ yang berarti kami masih meneruskan.

Ungkapan tersebut menjadi simbol bahwa generasi hari ini masih menjaga amanah yang dititipkan oleh leluhur. Sebuah penegasan bahwa tradisi, nilai, dan semangat pengabdian yang diwariskan tidak terputus oleh perubahan zaman.

“Ketika seseorang mengatakan ‘Iraga nu ngelanturang’, sesungguhnya ia sedang menyampaikan kepada leluhur bahwa warisan yang ditinggalkan masih dijaga. Kami masih meneruskan,” katanya.

Parta bahkan menyebut ngayah sebagai sekolah kehidupan yang paling lengkap dan paling murah yang dimiliki masyarakat Bali. Tidak ada ruang kelas, tidak ada kurikulum tertulis, dan tidak ada ijazah yang diberikan. Namun di dalamnya terdapat pelajaran tentang kebersamaan, tanggung jawab, kerendahan hati, disiplin, rasa hormat, dan pengabdian kepada sesama.

“Bagi saya, ngayah itu sekolah kehidupan gratis. Guru besarnya adalah desa, krama banjar, krama desa, para tetua, dan teman-teman sepermainan yang tumbuh bersama dalam kehidupan adat,” ujarnya.

Melalui proses ngayah, generasi muda belajar memahami bahwa kehidupan tidak hanya tentang pencapaian pribadi, melainkan juga tentang kemampuan memberikan manfaat kepada lingkungan sekitar. Mereka belajar bahwa keberhasilan sebuah komunitas selalu lahir dari semangat gotong royong dan kesediaan untuk berbagi peran.

Lebih jauh, Parta menjelaskan bahwa filosofi masyarakat Bali sejak dahulu bertumpu pada keyakinan bahwa manusia, alam, dan kehidupan spiritual merupakan satu kesatuan yang saling terhubung. Karena itu, ngayah tidak hanya berfungsi memperkuat hubungan sosial, tetapi juga menjadi cara menjaga keseimbangan semesta.

“Manusia Bali percaya alam, desa, dan manusia itu satu sistem. Ngayah adalah cara mengembalikan Rta, yaitu keteraturan dan keseimbangan energi,” jelasnya.

Dalam pandangan tersebut, setiap tindakan tulus yang dilakukan melalui ngayah sesungguhnya merupakan kontribusi untuk menjaga harmoni kehidupan. Harmoni antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, manusia dengan leluhur, dan manusia dengan alam.

Karena itulah, menurut Parta, masyarakat Bali sejak dahulu menggunakan istilah “ngayah ke pura” dan bukan “kerja di pura”. Bekerja identik dengan hubungan transaksional yang berorientasi pada hasil dan imbalan. Sementara ngayah berangkat dari ketulusan dan bakti.

“Kalau kerja orientasinya hasil dan upah. Kalau ngayah orientasinya bakti. Yang dicari bukan bayaran, melainkan keberkahan, kebersamaan, dan keseimbangan hidup,” ujarnya.

Di tengah berbagai perubahan sosial yang terus berlangsung, Parta berharap nilai-nilai ngayah tetap diwariskan kepada generasi muda Bali. Sebab selama masih ada masyarakat yang datang dengan hati tulus untuk mengabdi, selama masih ada krama yang bersedia meluangkan waktu dan tenaganya demi kepentingan bersama, maka jati diri Bali akan tetap hidup.

“Ngayah bukan sekadar tradisi yang diwariskan dari masa lalu. Ngayah adalah cara hidup. Cara menjaga hubungan dengan leluhur, dengan sesama, dengan alam, dan dengan Tuhan. Selama semangat itu tetap hidup, Bali akan tetap memiliki rohnya,” pungkas Parta.