JAKARTA – Datangnya Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah menjadi momentum penting bagi umat Muslim untuk melakukan refleksi diri sekaligus memperkuat komitmen dalam menjalani kehidupan yang lebih baik. Pergantian tahun dalam kalender Hijriah tidak hanya menandai perubahan waktu, tetapi juga mengandung pesan mendalam tentang pentingnya perbaikan diri, pembaruan niat, serta peningkatan kualitas hubungan dengan Allah SWT dan sesama manusia.
Momentum penuh makna tersebut mendapat perhatian dari Anggota Komisi III DPR RI, Dr. Soedeson Tandra, S.H., M.Hum. Menyambut Tahun Baru Islam 1448 Hijriah, politisi yang juga menjabat sebagai Ketua DPD I Partai Golkar Papua Tengah dan Sekretaris Jenderal DPP Ormas Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong (MKGR) itu mengajak masyarakat menjadikan Muharram sebagai titik awal untuk memperkuat semangat perubahan menuju kehidupan yang lebih bermartabat dan penuh manfaat.
Menurut Soedeson, tahun baru Hijriah merupakan waktu yang tepat untuk melakukan evaluasi terhadap perjalanan hidup selama setahun terakhir. Setiap individu perlu merenungkan apa yang telah dilakukan, memperbaiki kekurangan, serta menyusun harapan dan langkah baru yang lebih baik untuk masa depan.
“Awali tahun baru dengan hati yang bersih, niat yang tulus, dan harapan yang lebih baik,” ujar Soedeson Tandra dalam pesan menyambut Tahun Baru Islam 1448 Hijriah.
Pesan sederhana tersebut mengandung makna yang sangat mendalam. Hati yang bersih menjadi fondasi bagi lahirnya sikap bijaksana dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan. Ketulusan niat menjadi sumber kekuatan moral dalam bekerja dan mengabdi kepada masyarakat. Sementara harapan yang baik menjadi energi positif untuk terus bergerak maju menghadapi berbagai tantangan zaman.
Soedeson menilai bahwa bangsa Indonesia saat ini membutuhkan semakin banyak figur dan masyarakat yang mengedepankan kejujuran, integritas, serta semangat gotong royong. Nilai-nilai tersebut sejatinya selaras dengan pesan hijrah yang menjadi dasar penanggalan Islam.
Peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah bukan hanya perpindahan geografis, tetapi juga simbol transformasi besar menuju masyarakat yang lebih beradab, adil, dan berkeadilan sosial. Semangat inilah yang menurutnya perlu terus dihidupkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Makna hijrah harus diterjemahkan sebagai keberanian untuk berubah menjadi lebih baik. Dari sikap yang kurang peduli menjadi lebih peduli, dari perpecahan menuju persatuan, dari pesimisme menuju optimisme, dan dari kepentingan pribadi menuju kepentingan bersama,” ungkapnya.
Sebagai legislator yang membidangi urusan hukum, hak asasi manusia, dan keamanan, Soedeson Tandra menegaskan bahwa pembangunan bangsa tidak hanya ditentukan oleh aspek ekonomi dan infrastruktur, tetapi juga oleh kualitas moral dan karakter masyarakatnya. Oleh karena itu, momentum Tahun Baru Islam harus dimanfaatkan untuk memperkuat nilai-nilai kejujuran, tanggung jawab, serta kepedulian terhadap sesama.
Ia menilai bahwa tantangan global yang semakin kompleks membutuhkan ketahanan sosial yang kuat. Ketahanan tersebut hanya dapat terwujud apabila masyarakat memiliki solidaritas yang tinggi dan mampu menjaga persatuan dalam keberagaman.
Dalam konteks itulah, Soedeson mengajak seluruh elemen bangsa untuk mempererat tali silaturahmi, memperkuat ukhuwah, dan menumbuhkan budaya saling membantu. Menurutnya, semakin kuat rasa kebersamaan di tengah masyarakat, maka semakin kokoh pula fondasi bangsa dalam menghadapi berbagai tantangan di masa depan.
Selain mengajak masyarakat memperkuat nilai spiritual, Soedeson juga menekankan pentingnya menjadikan Tahun Baru Islam sebagai momentum untuk meningkatkan kontribusi nyata bagi lingkungan sekitar. Baginya, keberhasilan seseorang tidak hanya diukur dari pencapaian pribadi, tetapi juga dari seberapa besar manfaat yang dapat diberikan kepada orang lain.
Pesan tersebut sejalan dengan doa dan harapan yang turut disampaikan oleh sejumlah tokoh publik yang mengajak masyarakat menjadikan Tahun Baru Hijriah sebagai momentum memperbanyak kebaikan dan menebarkan manfaat.
“Semoga kita selalu dalam lindungan Allah SWT, diberikan kesehatan, keberkahan, serta menjadi manusia yang mampu menghadirkan manfaat bagi sesama,” demikian harapan yang disampaikan dalam semangat menyambut Tahun Baru Islam 1448 Hijriah.
Menurut Soedeson, nilai kebermanfaatan merupakan salah satu inti ajaran Islam yang sangat relevan untuk diterapkan dalam kehidupan modern. Di tengah dinamika sosial yang terus berkembang, setiap individu dituntut tidak hanya memikirkan dirinya sendiri, tetapi juga berkontribusi dalam menciptakan lingkungan yang lebih baik.
Ia meyakini bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten. Sebuah bangsa akan menjadi kuat apabila masyarakatnya memiliki semangat untuk terus memperbaiki diri dan berkontribusi bagi kemajuan bersama.
Lebih jauh, Soedeson berharap Tahun Baru Islam 1448 Hijriah dapat menjadi momentum lahirnya optimisme baru bagi seluruh rakyat Indonesia. Dengan semangat hijrah, masyarakat diharapkan mampu menghadapi berbagai tantangan dengan sikap yang lebih dewasa, lebih bijaksana, dan lebih penuh harapan.
Baginya, Indonesia memiliki modal sosial yang sangat besar berupa keberagaman budaya, agama, dan suku bangsa. Apabila seluruh elemen masyarakat mampu menjaga persatuan serta mengedepankan semangat kebersamaan, maka cita-cita mewujudkan Indonesia yang maju dan sejahtera akan semakin mudah diwujudkan.
Menutup pesannya, Soedeson Tandra mengajak seluruh umat Islam dan masyarakat Indonesia untuk menyambut Tahun Baru Hijriah dengan rasa syukur, memperbanyak doa, memperkuat ikhtiar, serta terus menebarkan energi positif di tengah kehidupan bermasyarakat.
“Tahun Baru Islam bukan sekadar pergantian angka dalam kalender, tetapi momentum untuk memperbarui semangat, memperkuat ketulusan, dan meneguhkan komitmen menjadi pribadi yang lebih baik. Semoga 1448 Hijriah membawa keberkahan, kedamaian, dan kemajuan bagi seluruh rakyat Indonesia,” pungkasnya.





