banner 728x90
Daerah  

Penuh Syukur, Keluarga GSL Gelar Upacara Nelu Bulanin untuk Agung Jayananda Linggih

Screenshot 20260824 180908 Video Player
banner 120x600

DENPASAR – Suasana penuh syukur dan kebahagiaan menyelimuti kediaman keluarga besar Ketua DPD I Partai Golkar Provinsi Bali periode 2025-2030 sekaligus Anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar Dapil Bali, Gde Sumarjaya Linggih (GSL) yang akrab disapa Demer.

Keluarga besar GSL melaksanakan Upacara Manusa Yadnya Tigang Sasih atau yang juga dikenal dengan Nelu Bulanin untuk buah hati tercinta, Agung Jayananda Linggih.

Upacara yang berlangsung khidmat tersebut bukan sekadar perayaan tradisi, melainkan menjadi momen sakral untuk memanjatkan puja dan rasa syukur kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas anugerah kehidupan, kesehatan dan keselamatan yang diberikan kepada sang buah hati sejak dalam kandungan hingga lahir ke dunia.

“Hari yang penuh syukur dan kebahagiaan bagi keluarga kami, saat melaksanakan upacara Tigang Sasih untuk buah hati tercinta, Agung Jayananda Linggih. Bukan sekadar tradisi, tetapi menjadi momen sakral untuk memanjatkan doa dan rasa syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa,” ungkap GSL seperti dikutip dari Instagram pribadinya.

Dalam doa yang dipanjatkan, keluarga besar memohon agar Agung Jayananda Linggih senantiasa diberikan kesehatan, keselamatan, perlindungan sekala dan niskala, serta tumbuh menjadi anak yang suputra, berbudi pekerti luhur, dan membawa kebahagiaan bagi keluarga, masyarakat, dan bangsa.

Acara tersebut dihadiri oleh keluarga besar, para tamu undangan, kerabat, sahabat, serta tokoh masyarakat yang meluangkan waktu untuk hadir dan berbagi kebahagiaan. Keluarga menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya atas doa dan restu yang diberikan.

“Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada keluarga, para tamu undangan, sahabat, serta orang-orang terkasih yang telah meluangkan waktu untuk hadir dan berbagi kebahagiaan bersama kami. Semoga segala doa dan harapan baik yang dipanjatkan senantiasa mendapat restu dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa,” lanjutnya.

Apa Itu Upacara Tigang Sasih / Nelu Bulanin?

Upacara Tigang Sasih merupakan salah satu upacara penting dalam siklus kehidupan manusia Hindu di Bali yang termasuk dalam rangkaian Manusa Yadnya.

Secara harfiah, Tigang Sasih berarti tiga bulan. Upacara ini juga disebut Nelu Bulanin yaitu upacara bayi umur tiga bulan yang dilakukan seratus lima hari setelah bayi itu lahir. Perhitungan ini menggunakan kalender tradisional Bali, di mana satu bulan atau sasih dihitung 35 hari, sehingga tiga bulan genap 105 hari.

Menurut lontar dan tradisi, upacara ini memiliki beberapa makna filosofis yang sangat mendalam:

1. Ngeruwat Mala dan Penyucian
Tujuan utama upacara ini adalah untuk ngeruwat mala atau membersihkan tubuh sang bayi dari kotoran yang masih melekat sejak lahir. Ini adalah proses penyucian terhadap bayi secara lahir dan batin, untuk itu dibuatlah upacara lengkap dengan sarana upakara atau banten.

Dalam kepercayaan Hindu Bali, setiap manusia sejak lahir telah memiliki hutang atau Rna yang harus dilunasi melalui pelaksanaan Panca Yadnya. Tigang Sasih menjadi salah satu wujud pelunasan tersebut.

2. Memohon Perlindungan Kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan Leluhur
Upacara ini bertujuan untuk menyucikan bayi secara lahir dan batin serta memohon perlindungan dari Tuhan dan leluhur. Sekaligus sebagai wujud rasa syukur dan terimakasih kepada Ida Hyang Widhi Wasa yang selama ini menjaga si jabang bayi, mulai dari dalam kandungan hingga lahir.

3. Upacara Turun Tanah / Tedun
Ada kalanya upacara ini disertai dengan upacara turun tanah sebagai permohonan kepada ibu pertiwi bahwa si bayi akan menginjakkan kaki ke tanah. Pada momen inilah untuk pertama kalinya kaki bayi diperkenankan menginjak bumi secara langsung. Sebelum upacara ini, bayi dipercaya masih sangat lekat dengan dunia spiritual dan belum boleh menyentuh tanah secara bebas.

Dalam pelaksanaannya, upacara biasanya dipuput atau dipimpin oleh seorang Sulinggih atau Jero Mangku, dengan rangkaian banten yang dibagi menjadi tiga tingkatan sesuai dengan tingkatan alam.

Di tengah modernisasi, keluarga besar Gde Sumarjaya Linggih yang dikenal sebagai politisi senior Golkar lima periode dari Dapil Bali dan kini resmi memimpin DPD Partai Golkar Provinsi Bali untuk periode 2025–2030 setelah terpilih secara aklamasi dalam Musda XI di Hotel The Meru Sanur pada 13 Juli 2025, menunjukkan komitmennya dalam menjaga dan melestarikan tradisi adat Bali.

Bagi GSL, tradisi bukan hanya warisan budaya, tetapi adalah jati diri. Pelaksanaan Tigang Sasih untuk Agung Jayananda Linggih menjadi bukti bahwa nilai-nilai dharma, bakti kepada leluhur, dan syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa tetap menjadi fondasi utama di tengah kesibukan sebagai Ketua Golkar Bali dan pengabdian di Senayan sebagai Anggota Komisi VI DPR RI.

Semoga Agung Jayananda Linggih tumbuh menjadi anak yang sehat, panjang umur, cerdas, dan kelak menjadi pemimpin yang membawa dharma dan kebaikan bagi Bali dan Indonesia. Astungkara.