Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Alumni PII dan Anggota DPR RI Faksi PKS Dapil Kalsel I
Setiap tanggal 4 Mei, Pelajar Islam Indonesia (PII) memperingati Hari Bangkit (HARBA), sebuah momentum penting untuk meneguhkan kembali semangat dan arah perjuangan pelajar Islam dalam menghadapi tantangan zaman. Tahun ini, peringatan HARBA hadir dengan refleksi yang lebih mendalam: bagaimana ideologi yang diwariskan para pendiri tetap hidup dan relevan di tengah derasnya arus disrupsi.
Era disrupsi telah mengubah banyak hal secara fundamental. Perkembangan teknologi, derasnya arus informasi, hingga perubahan budaya berlangsung begitu cepat dan seringkali tak terduga. Disrupsi bukan sekadar soal digitalisasi, tetapi juga menyentuh cara berpikir, sistem nilai, bahkan cara manusia memaknai kehidupan. Dalam kondisi ini, ideologi tidak boleh berhenti sebagai konsep normatif, tetapi harus hadir sebagai kompas yang membimbing arah gerak kader.
Sejak berdiri pada 1947, PII bukan hanya organisasi pelajar biasa, melainkan sebuah gerakan ideologis yang membawa misi besar: membentuk pelajar Muslim yang berkepribadian Islam, berilmu, serta berkontribusi bagi umat dan bangsa. Ideologi PII merupakan perpaduan antara nilai keislaman, keindonesiaan, dan kepelajaran—sebuah warisan berharga yang harus terus dijaga lintas generasi.
Namun, tantangan hari ini jauh berbeda dibanding masa lalu. Jika dulu perjuangan berhadapan dengan kolonialisme fisik, kini pelajar menghadapi kolonialisme gaya hidup, pemikiran instan, dan krisis makna. Banjir informasi tanpa filter, budaya serba cepat tanpa kedalaman, serta kecenderungan menjadi “penikmat zaman” menjadi ujian tersendiri bagi generasi muda.
Dalam konteks ini, HARBA menjadi sangat relevan. Mewariskan ideologi di tengah disrupsi menuntut pembaruan pendekatan tanpa kehilangan substansi. Kaderisasi harus mampu bertransformasi, nilai-nilai Islam perlu dikemas secara kontekstual, dan ruang digital harus dimanfaatkan sebagai arena dakwah yang efektif.
Ada tiga langkah strategis yang perlu diperkuat. Pertama, internalisasi nilai, di mana ideologi diwujudkan dalam perilaku nyata kader. Kedua, adaptasi metode, dengan menjadikan teknologi sebagai alat perjuangan, bukan ancaman. Ketiga, penguatan visi peradaban, agar kader tidak sekadar reaktif terhadap isu, tetapi mampu merumuskan arah masa depan umat dan bangsa.
Hari Bangkit bukan sekadar seremonial, melainkan panggilan untuk bangkit dalam kesadaran, pemikiran, dan aksi. Ideologi yang tidak diwariskan akan memudar, dan organisasi tanpa ideologi akan kehilangan arah di tengah derasnya perubahan.
Di momentum ini, pertanyaan mendasar perlu dijawab: apakah kader hanya menjadi pewaris nama, atau benar-benar penerus perjuangan?
Jika ideologi tetap hidup, PII akan terus relevan di tengah disrupsi. Namun jika tidak, gelombang perubahan akan menggerus tanpa ampun.
Selamat Hari Bangkit PII. Saatnya meneguhkan warisan dan menyalakan kembali api perjuangan di era disrupsi.





