banner 728x90

Kritik Keras Pengamat yang Sebut MBG Beban Fiskal, Ambar: Kita Harus Dukung MBG Jadi Gerakan Nasional

Img 20260505 Wa0208
banner 120x600

JAKARTA –  Menanggapi adanya suara miring dari sejumlah pengamat yang mendesak penghentian program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan alasan beban fiskal dan argumen yang tidak masuk akal. Ambar Chrisdiana, Wabendum Depinas SOKSI menanggapi dengan keras. Ia menilai cara berpikir yang menyebutkan MBG bukan investasi, hanya karena berakhir di saluran pembuangan adalah logika yang menyesatkan dan tidak berpihak pada rakyat. Menurut Ambar, program MBG merupakan bentuk investasi sumber daya manusia (SDM) jangka panjang yang tidak bisa di ukur dengan logika jangka pendek.

“Pengamat seperti itu keblinger dan sangat naif. Mengatakan MBG bukan investasi karena makanan akhirnya di buang ke WC adalah cara berpikir asal bunyi alias asbun yang patut diragukan kredibilitas akademiknya. Saya bahkan meragukan gelar Profesor yang bersangkutan, karena logika berpikirnya yang terbalik,” tegas Ambar saat dihubungi melalui telepon selulernya pada hari Rabu, 13 Mei 2026 di Jakarta.

Ambar menambahkan bahwa alasan fiskal tidak boleh serta-merta dijadikan dasar untuk menghentikan program yang menyentuh kepentingan rakyat banyak. Masalah fiskal seharusnya dijawab dengan diversifikasi sumber-sumber pendapatan APBN, bukan dengan memangkas hak dasar rakyat. Yang harus dipikirkan adalah mendorong pemerintah, khususnya jajaran Menko bidang Perekonomian untuk berpikir kreatif dan inovatif dalam mencari sumber pendapatan negara diluar pajak. Mengoptimalkan pendapatan negara bukan pajak (PNBP). Memastikan royalti dari sektor pertambangan masuk ke kas negara secara maksimal, bukan justru menguap ke kantong-kantong oknum tertentu. Mendukung Presiden Prabowo Subianto untuk mengevaluasi kinerja jajaran Menteri Ekonomi agar lebih progresif mencari sumber APBN baru (diluar pajak) guna memastikan MBG berkelanjutan.

Agar program MBG ini dapat berjalan efektif dan bersih, Ambar mengusulkan beberapa langkah strategis yaitu mendorong penguatan kelembagaan BGN dengan menggandeng Kejaksaan Agung dan KPK untuk melakukan supervisi ketat hingga ketingkat teknis, guna memastikan tidak ada sepeserpun uang negara yang bocor. Pemberdayaan UMKM daerah dengan menjamin seluruh pasokan kebutuhan dapur MBG berupa telur, susu, daging, ikan, dan lain-lain wajib berasal dari UMKM dan masyarakat setempat di lokasi dapur berada. Mendorong multiplier effect ekonomi sehingga MBG ini menjadi mesin penggerak ekonomi daerah untuk meningkatkan daya beli dan menciptakan lapangan kerja baru di sentra-sentra produksi lokal.

“Kita harus mendukung agar MBG ini menjadi gerakan nasional. Masa depan bangsa ditentukan oleh kualitas generasi muda kita saat ini. Kita harus memastikan mereka mendapatkan asupan bergizi. Program MBG ini bukan sekadar soal makanan, tapi soal kedaulatan dan kualitas bangsa di masa depan,” pungkas Ambar.(Har)