Sidoarjo,WartaMerdeka.Com — Suasana hangat Idul Fitri 1 Syawal 1447 Hijriah masih terasa kental, membawa semangat saling memaafkan dan mempererat tali silaturahmi. Momentum tersebut dimanfaatkan oleh komunitas insan media Sat Set Seduluran Sejati dengan menggelar kegiatan halal bihalal yang penuh makna pada Kamis, 26 Maret 2026.

Bertempat di kediaman Samsudin Bastian di Sidoarjo, acara ini tidak sekadar menjadi ajang berkumpul, tetapi juga ruang refleksi yang menyatukan nilai kemanusiaan dan profesionalisme dalam dunia jurnalistik. Dari tempat yang sederhana, terbangun suasana kebersamaan yang hangat, tulus, dan tanpa sekat.
Sejak awal kegiatan, nuansa keakraban begitu terasa. Para awak media dari Surabaya dan Sidoarjo saling berbaur, berjabat tangan, berbagi cerita, hingga berdiskusi santai. Momen ini menjadi oase di tengah padatnya aktivitas peliputan yang kerap menyita waktu dan energi para jurnalis.

Tuan rumah, Samsudin Bastian yang akrab disapa Abie, menyambut para tamu dengan penuh kehangatan. Selain aktif sebagai wartawan, ia juga dikenal sebagai penasihat di Media Info Jalanan. Dalam sambutannya, Abie menegaskan bahwa halal bihalal ini menjadi upaya menjaga silaturahmi yang kerap terabaikan akibat kesibukan profesi.
Menariknya, kegiatan ini berawal dari ide sederhana di lingkungan keluarga. Sang istri, Wiwik, yang juga berprofesi sebagai jurnalis di Liputan 7, menjadi penggagas awal terselenggaranya acara tersebut. Dari gagasan sederhana itu, lahir pertemuan yang mampu menyatukan berbagai insan media dalam satu ikatan persaudaraan.
“Ini bukan sekadar silaturahmi, tetapi juga konsolidasi antar media agar semakin solid dan mampu menghadirkan karya jurnalistik yang berkualitas,” ujar Abie.

Lebih jauh, kegiatan ini juga menjadi ruang refleksi di tengah dinamika dunia media yang kian kompleks. Para jurnalis yang sehari-hari bergelut dengan tekanan deadline dan derasnya arus informasi, memanfaatkan momen ini untuk sejenak menenangkan diri dan kembali pada nilai-nilai dasar profesi.
Diskusi yang berlangsung santai namun berbobot turut mengangkat berbagai isu penting, mulai dari tantangan menjaga independensi media, peran jurnalis di era digital, hingga pentingnya integritas di tengah persaingan yang semakin ketat.
Di penghujung acara, tersirat pesan kuat bahwa silaturahmi bukan hanya tradisi tahunan, melainkan fondasi penting dalam menjaga etika, nilai, dan solidaritas di dunia jurnalistik.
Dari sebuah rumah sederhana di Sidoarjo, lahir pengingat bahwa kebersamaan yang dilandasi keikhlasan akan memperkuat langkah ke depan—tidak hanya dalam menjalankan profesi sebagai jurnalis, tetapi juga sebagai manusia yang saling menghargai dan menguatkan.(gatot)





