banner 728x90
Daerah  

“Dilakukan Saja Tanpa Perdebatan”: I Nyoman Parta Soroti Kekuatan Tradisi dan Yadnya Masyarakat Bali

Screenshot 20260522 073838 Video Player
banner 120x600

BALI – “Di Desa Guwang namanya joli, di tempat semeton apa namanya?” Kalimat sederhana itu belakangan ramai dibicarakan masyarakat Bali di media sosial. Bagi sebagian orang luar Bali, joli mungkin hanya dipahami sebagai sarana usungan jenazah menuju setra atau kuburan. Namun bagi masyarakat Bali, joli bukan sekadar alat angkut, melainkan simbol penghormatan terakhir kepada manusia dalam perjalanan menuju alam niskala.

Tradisi itu kembali mendapat perhatian setelah Anggota DPR RI Dapil Bali, I Nyoman Parta, menyinggung pentingnya menjaga warisan budaya leluhur Bali di tengah derasnya arus modernisasi. Menurutnya, masyarakat Bali memiliki sistem kehidupan yang unik karena setiap fase kehidupan manusia selalu diiringi ritual, yadnya, serta penghormatan terhadap keseimbangan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

“Orang Bali itu dari masih dalam kandungan sampai meninggal selalu ada tahapan ritual. Itu bukan sekadar seremoni, tetapi pendidikan spiritual dan sosial yang diwariskan turun-temurun,” ujar Nyoman Parta dalam keterangannya.

Politikus asal Desa Guwang, Gianyar itu menilai, tradisi seperti joli menunjukkan betapa masyarakat Bali sangat menghormati manusia bahkan hingga akhir hayatnya. Saat seseorang meninggal dunia, keluarga tidak sekadar membawa jasad ke kuburan, tetapi mengiringinya dengan penghormatan adat yang sarat makna.

Di sejumlah desa adat di Bali, joli memiliki nama dan bentuk berbeda-beda. Ada yang menyebut bade kecil, pepaga, atau usungan adat tertentu sesuai tradisi desa masing-masing. Namun esensinya tetap sama, yakni penghormatan kepada leluhur dan pengantaran terakhir menuju alam berikutnya.

“Di Bali itu unik. Ketika hidup dirawat dengan upacara, saat meninggal pun dimuliakan dengan ritual. Itu bentuk penghormatan kepada manusia dan keluarga yang ditinggalkan,” katanya.

Nyoman Parta menegaskan bahwa banyak orang luar menganggap tradisi Bali terlalu rumit, mahal, bahkan merepotkan. Namun bagi masyarakat adat Bali, ritual bukan beban melainkan bentuk tanggung jawab budaya yang dijalankan dengan tulus.

“Mungkin ada yang bilang ribet, terlalu banyak upacara, terlalu banyak aturan. Tapi bagi masyarakat Bali yang ingin menjaga warisan leluhur, itu dilakukan tanpa banyak perdebatan. Dilakukan saja, karena itulah cara menjaga identitas,” ujarnya.

Ia menjelaskan, filosofi kehidupan masyarakat Bali dibangun dari konsep keseimbangan. Ritual dan yadnya bukan hanya hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga menjaga hubungan dengan sesama manusia serta alam semesta.

Menurut Parta, modernisasi dan perkembangan pariwisata jangan sampai mengikis akar budaya Bali. Sebab kekuatan Bali justru lahir dari adat, tradisi, dan nilai spiritual yang tetap hidup di tengah masyarakat.

“Kalau budaya Bali hilang, Bali kehilangan rohnya. Wisatawan datang ke Bali bukan hanya karena pantainya, tetapi karena budaya dan kehidupan masyarakat adatnya yang masih hidup,” tegasnya.

Sebagai anggota DPR RI, Nyoman Parta selama ini dikenal aktif menyuarakan perlindungan masyarakat adat dan budaya lokal Bali. Ia beberapa kali mendorong penguatan pengakuan masyarakat adat dalam regulasi nasional. �

E-Media DPR RI + 2

Dalam berbagai kesempatan, Parta juga menekankan pentingnya negara memberikan ruang kepada daerah untuk mempertahankan identitas dan kekhasan budayanya. Ia menilai Bali menjadi contoh bagaimana adat masih mampu berjalan berdampingan dengan kehidupan modern. �

E-Media DPR RI + 1

Tradisi joli sendiri menjadi gambaran kecil bagaimana masyarakat Bali menjaga nilai penghormatan terhadap manusia. Bahkan di tengah perkembangan zaman, masyarakat adat tetap mempertahankan prosesi itu sebagai bagian dari penghormatan terakhir kepada leluhur.

“Bali mengajarkan bahwa manusia itu bukan hanya hidup lalu selesai. Ada penghormatan, ada doa, ada perjalanan spiritual yang diyakini terus berlanjut. Itu sebabnya setiap tahapan kehidupan selalu dimuliakan,” kata Parta.

Ia berharap generasi muda Bali tidak malu terhadap tradisi leluhurnya sendiri. Sebab budaya tidak akan bertahan bila anak mudanya mulai merasa asing terhadap akar identitasnya.

“Warisan budaya itu bukan hanya untuk dipamerkan kepada wisatawan, tetapi untuk dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” tutupnya.