banner 728x90

Peringati Hari Bumi, I Nyoman Parta Soroti Krisis Lingkungan Bali dan Dorong Gerakan Berbasis Desa Adat

Medium Tscom News Photo 1680090998
banner 120x600

BALI – Memperingatan Hari Bumi aktivis lingkungan sekaligus Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan Dapil Bali, I Nyoman Parta kembali menyuarakan pentingnya langkah konkret dan terstruktur dalam menghadapi krisis lingkungan di Pulau Dewata. Tidak hanya mengajak aksi individu, Parta kali ini menekankan pentingnya gerakan kolektif berbasis desa adat sebagai kunci menjaga keberlanjutan alam Bali.

Dalam pesannya kepada masyarakat, Parta tetap menggunakan sapaan khas “Ton” sebagai simbol kedekatan dan persaudaraan. Ia menegaskan bahwa persoalan lingkungan tidak bisa lagi dianggap sebagai isu pinggiran, melainkan sudah menjadi persoalan utama yang menyentuh kehidupan sehari-hari masyarakat Bali.

“Ton, Hari Bumi bukan sekadar seremoni. Ini alarm untuk kita semua. Alam Bali sedang tidak baik-baik saja, dan kita tidak bisa hanya diam,” ujar Parta kepada wartawan, Bali, Rabu (22/4/2026)

Soroti Krisis Sampah dan Alih Fungsi Lahan

Parta mengungkapkan bahwa Bali saat ini menghadapi tekanan lingkungan yang semakin berat. Selain persoalan sampah yang belum tertangani optimal, alih fungsi lahan produktif menjadi kawasan pariwisata dan permukiman juga menjadi ancaman serius.

Ia menilai, jika tidak ada pengendalian yang tegas, maka Bali berpotensi kehilangan keseimbangan ekologisnya.

“Lahan pertanian makin menyempit, daerah resapan air berkurang, sementara produksi sampah terus meningkat. Ini harus jadi perhatian serius semua pihak, bukan hanya pemerintah,” tegasnya.

Menurut Parta,, krisis ini bukan hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga pada ketahanan pangan, ketersediaan air bersih, hingga keberlangsungan budaya Bali yang sangat bergantung pada harmoni alam.

Dorong Peran Desa Adat dan Banjar

Berbeda dari pendekatan sebelumnya yang menekankan aksi individu, Parta kali ini mendorong penguatan peran desa adat dan banjar sebagai ujung tombak gerakan lingkungan.

Ia menilai bahwa struktur sosial di Bali yang berbasis komunitas merupakan kekuatan besar yang belum dimanfaatkan secara maksimal dalam pengelolaan lingkungan.

Beberapa langkah yang ia dorong antara lain:

1. Perarem Lingkungan di Desa Adat: Membuat aturan adat yang tegas terkait pengelolaan sampah dan pelestarian lingkungan

2. Bank Sampah Berbasis Banjar: Mengelola sampah dari sumber dengan sistem ekonomi sirkular

3. Sanksi Sosial bagi Pelanggar: Memberikan efek jera bagi masyarakat yang membuang sampah sembarangan

4. Program Edukasi Berkelanjutan: Melibatkan generasi muda dalam pendidikan lingkungan sejak dini

“Kalau desa adat bergerak, Bali pasti bisa berubah. Kita punya sistem sosial yang kuat, tinggal bagaimana kita manfaatkan untuk menjaga alam,” jelasnya.

Tekankan Kolaborasi Pemerintah dan Masyarakat

Parta juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat. Ia menilai bahwa kebijakan yang baik tidak akan berjalan efektif tanpa partisipasi aktif masyarakat.

Sebaliknya, gerakan masyarakat juga membutuhkan dukungan regulasi dan fasilitas dari pemerintah agar dapat berjalan secara berkelanjutan.

Ia mendorong agar pemerintah daerah memperkuat infrastruktur pengelolaan sampah, memperluas ruang terbuka hijau, serta memperketat pengawasan terhadap pembangunan yang berpotensi merusak lingkungan.

Gaya Hidup Baru yang Ramah Lingkungan

Dalam kesempatan tersebut, Parta juga mengajak masyarakat untuk mulai mengubah pola hidup menjadi lebih ramah lingkungan. Ia menyebut bahwa perubahan gaya hidup merupakan fondasi utama dalam menjaga bumi.

Beberapa kebiasaan yang ia dorong antara lain:

1. Mengurangi konsumsi barang sekali pakai

2. Membawa botol minum dan tas belanja sendiri

3. Menghemat penggunaan air dan listrik

4. Mendukung produk lokal yang berkelanjutan

Lanjut Parta menerangkan, perubahan kecil dalam gaya hidup jika dilakukan secara konsisten akan memberikan dampak besar dalam jangka panjang.

Momentum Refleksi dan Aksi

Parta berharap Hari Bumi tahun ini tidak hanya menjadi ajang refleksi, tetapi juga momentum untuk memulai gerakan nyata yang berkelanjutan.

Ia mengingatkan bahwa menjaga Bali bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau aktivis lingkungan, tetapi kewajiban seluruh masyarakat sebagai bagian dari alam itu sendiri.

“Bali bukan warisan dari leluhur kita, tapi titipan untuk anak cucu kita. Kalau kita tidak bergerak sekarang, kita akan menyesal nanti,” ujarnya.

Dukungan dari Berbagai Elemen

Seruan Parta mendapat dukungan dari berbagai elemen masyarakat, mulai dari tokoh adat, komunitas lingkungan, hingga generasi muda. Sejumlah desa adat bahkan mulai merancang program khusus untuk memperingati Hari Bumi dengan aksi nyata di wilayah masing-masing.

Kegiatan seperti bersih-bersih pantai, penanaman pohon, hingga sosialisasi pengelolaan sampah mulai digalakkan sebagai bentuk komitmen bersama menjaga Bali.

Parta pun mengapresiasi semangat tersebut dan berharap gerakan ini tidak berhenti setelah Hari Bumi, tetapi terus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Bali.

“Jangan tunggu sempurna untuk mulai. Dari banjar, dari desa, dari rumah—kita bisa selamatkan Bali bersama,” tutupnya.